Ancaman Corona Menciut, Penguatan Rupiah Berlanjut

Masih Tinggi, Tapi Laju Kasus Corona Mulai MelambatPT Equityworld Futures Medan-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot pagi ini. Munculnya harapan meredanya serangan virus corona atau Coronavirus Desease-2019 (Covid-19) membuat pelaku pasar kembali berkenan memburu aset-aset berisiko.

Pada Selasa (7/4/2020), US$ 1 dihargai Rp 16.380 kala pembukaan pasar spot. Sama persis dengan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya atau stagnan.

Namun seiring perjalanan pasar, rupiah berhasil masuk jalur hijau. Pada pukul 09:10 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 16.375 di mana rupiah menguat tipis 0,03%.

Dini hari tadi waktu Indonesia, datang kabar baik dari New York. Bursa saham AS di Wall Street ditutup menguat sangat tajam. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) meroket 7,73%, S&P 500 terdongkrak 7,03%, dan Nasdaq Composite melesat 7,33%.

Pandemi virus corona masih menjadi sentimen dominan di pasar. Namun investor sedikit lega karena serangan virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini terus melambat.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan dalam kurun waktu 20 Januari-6 April rata-rata pertumbuhan jumlah kasus corona adalah 12.52% per hari. Sejak 24 Maret, pertumbuhan jumlah kasus baru sudah di bawah itu yakni 9,67%. Bahkan dalam delapan hari terakhir pertumbuhan kasus baru per harinya sudah satu digit.

Demikian pula dengan korban meninggal, kurvanya semakin mendatar. Selama 23 Januari-6 Maret, rata-rata penambahan korban adalah 14,6% per hari. Sejak 16 Maret, lajunya sudah di bawah rata-rata tersebut.

Pada 6 April, jumlah korban jiwa bertambah 7,66%. Ini adalah yang terendah sejak 18 Maret.

Masih Tinggi, Tapi Laju Kasus Corona Mulai Melambat

Perlambatan jumlah kasus dan korban jiwa secara global terjadi karena perbaikan di negara-negara berstatus hot spot. AS, negara dengan jumlah kasus corona terbanyak di dunia, mencatatkan perlambatan jumlah pasien baru.

Selama periode 22 Januari-6 April, rata-rata penambahan kasus Covid-19 di Negeri Adidaya adalah 20,53% per hari. Sejak 29 Maret, rata-ratanya sudah di bawah itu yakni 12,87%. Bahkan penambahan pasien baru dalam dua hari terakhir sudah di level satu digit.

“Mungkin ini bukan sepenuhnya kabar baik. Namun kemungkinan kurva (kasus) yang semakin mendatar tentu lebih baik dibandingkan kenaikan tajam yang terjadi sebelumnya,” kata Andrew Cuomo, Gubernur Negara Bagian New York, seperti diberitakan Reuters.

Begitu pula yang terjadi di Italia. Mulai 24 Februari hingga 6 April, rata-rata laju penambahan pasien corona baru di Negeri Spageti adalah 17,39%. Sejak 15 Maret, laju pertumbuhannya terus melambat.

Dari sini muncul harapan bahwa serangan virus corona bisa jadi sudah mencapai puncaknya dan ke depan berpotensi terus menurun. Setelah teror corona selesai, perekonomian global yang sekarang lumpuh bisa kembali bangkit berdiri.

Melihat adanya asa, pelaku pasar yang awalnya bermuram durja sekarang kembali ceria. Gairah pasar sudah kembali, dan aset-aset berisiko menjadi buruan. Hasilnya, rupiah mampu menguat karena ‘banjir’ arus modal asing

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan