Kecaman besar-besaran dalam media sosial China tampaknya telah mendorong PBB mencabut dua artikel Tahun Baru Imlek mengenai pengungsi dan kemiskinan dari situs media sosial Weibo.

Artikel atau pesan mikroblog Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu tampaknya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, tetapi banyak orang menganggap artikel itu sebagai kritikan terhadap China, dengan memberi alasan bahwa ekonomi nomor dua terbesar di dunia itu sudah berbuat cukup untuk menyumbang kepada PBB dan China bukan sumber masalah — apakah itu pengungsi atau kemiskinan.

Dalam artikel pertama yang dimuat pada malam Tahun Baru Imlek, tulisan tersebut menanya: œSayang, apakah kamu sudah makan Tahun Baru Imlek? Makanannya pasti sangat enak!

Tulisan itu seterusnya berbicara mengenai kira-kira 800 juta orang di dunia menderita kelaparan setiap hari dan jumlah yang sama hidup dalam kemiskinan ekstrim. Artikel tersebut juga mengemukakan bahwa $250 milyar dana dibutuhkan dari seluruh dunia untuk mencapai sasaran pembangunan yang ramah lingkungan, yakni, memberantas kemiskinan sebelum tahun 2030.

Artikel kedua, yang dimuat pada pagi Hari Tahun Baru Imlek, mencakup video yang menunjukkan perbedaan tajam antara orang yang tinggal dalam zona konflik seperti Suriah dan kamp-kamp pengungsi dan orang-orang yang tinggal di tempat lain. Kata pendahuluannya berbunyi: œSementara bunga Festival Musim Semi mekar, izinkanlah saya membawa anda melihat dunia lain . . .

Sebelum artikel itu dicabut, video tersebut telah ditonton lebih dari 10 juta kali dan memperoleh lebih dari 54 ribu komentar. Sebagian besar komentar itu bernada negatif, dan banyak yang mendesak PBB agar jangan mengirim pesan demikian ke China, apalagi pada waktu musim hari besar.

Sumber : VOA

Equity World