Balas Dendam! Bitcoin cs Rebound, Giliran Harga Emas Nyungsep

Apakah Keberhasilan Bitcoin Datang dengan Pengorbanan Emas? | JARDIN®

PT Equityworld Futures Medan-Harga emas tertekan karena aset kripto paling populer sedunia yakni Bitcoin mulai rebound dari posisi terendah sepanjang tahun ini. Fokus investor saat ini adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) nanti malam.
Kamis (10/6/2021), harga emas di pasar spot melemah 0,1% ke US$ 1.886/troy ons. Indeks dolar naik 0,07% ke 90,2 dan Bitcoin menguat 1,81% ke US$ 37.078/koin.

Sebelumnya harga Bitcoin tertekan hebat dan memberikan ruang bagi emas untuk menguat. Secara teknikal Bitcoin sempat dihantui pola dead cross sebagai akibat penurunan harga yang tajam.

Dead cross merupakan indikator teknikal yang menunjukkan bahwa rata-rata pergerakan harga 50 harian (MA50) mulai memotong rata-rata pergerakan harga jangka panjangnya (MA100 dan atau MA200). Munculnya pola dead cross hanya akan mengkonfirmasi bahwa aset digital ini akan cenderung melanjutkan tren penurunannya.

Namun terjadi pembalikan arah Bitcoin. Pasar melihat tren penurunan yang sudah terlalu signifikan sebagai momentum untuk membeli Bitcoin. Ketika emas cenderung jenuh beli (overbought), Bitcoin justru sebaliknya dan mengalami jenuh jual (oversold).

Kini pasar tengah mencermati rilis data inflasi AS yang dijadwalkan malam nanti. Konsensus pasar memperkirakan inflasi bulan Mei bakal melesat lebih tinggi dari bulan April di angka 4,7%.
Sebenarnya tingkat inflasi yang tinggi akan cenderung menguntungkan emas apalagi jika kondisi ekonomi masih terpuruk seperti sekarang ini di mana kemungkinan bank sentral untuk mengubah stance kebijakan moneternya masih relatif kecil.

Dalam catatan terbarunya analis Bank Societe Generale menjelaskan faktor kenaikan inflasi (reflasi) masih menjadi tema utama yang mendorong tren bullish pasar emas. Sentimen inflasi masih sangat dominan di pasar emas.

Namun apabila sentimen ini mulai kehilangan momentum maka harga emas bisa jatuh dalam waktu yang singkat. Menurutnya investor harus lebih fokus pada suku bunga riil bukan nominal.

Selain inflasi masalah utang negara yang membengkak juga menjadi faktor pendorong naiknya harga emas. Pandemi Covid-19 membuat pendapatan negara dari pajak turun tetapi di saat yang sama belanja pemerintah bengkak.

Jika krisis utang terjadi maka harga emas berpeluang makin naik. Namun di saat yang bersamaan jika krisis utang terjadi dan dolar AS juga menguat justru yang terjadi sebaliknya.

Namun risiko yang membayangi emas juga besar. Melansir Kitco News analis Societe Generale mengatakan bahwa kondisi perekonomian yang membaik menjadi risiko terbesar bagi harga emas.

“Skenario pemulihan ekonomi karena lancarnya program vaksinasi yang efektif masih akan menjadi sentimen paling bearish untuk emas karena akan meredakan kekhawatiran gejolak ekuitas dan kebijakan moneter yang dovish,” kata para analis.

“Risiko penurunan yang lebih besar dari skenario ekonomi yang lebih baik dengan tingkat kenaikan suku bunga yang lebih tinggi, kami percaya hal tersebut akan menambah 200 ton arus keluar dari ETF [exchange traded fund] dan dapat menurunkan harga emas sebesar US$ 200/ons dari perkiraan kasus dasar kami.”

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan