Berita Buruk Jelang Weekend: Harga Emas Ambrol 2% Lebih!

Emas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

PT Equityworld Futures Medan-Harga emas dunia anjlok pada perdagangan hari ini. Ke depan, bagaimanakah nasib harga sang logam mulia?
Pada Jumat (17/9/2021) pukul 05:51 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1,753,23/troy ons, Ambles 2,2% dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, harga emas sudah turun 2,33% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, koreksinya adalah 1,85%.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan masa depan harga emas masih suram. Menurutnya, harga akan jatuh lebih dalam saat menembus titik support US$ 1.782/troy ons.

emas

emasSumber: Reuters

“Hanya penembusan di atas US$ 1.807/troy ons yang akan menjadi sinyal tren pelemahan ini akan berbalik. Kalau melihat grafik harian, harga emas bahkan bisa turun hingga ke dekat dengan US$ 1.684/troy ons,” tulis Wang dalam risetnya.

emas

Hari ini, tekanan terhadap harga emas datang dari penguatan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pada pukul 05:59 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) naik 0,34%.
Harga emas dan dolar AS punya hubungan yang berbanding terbalik. Saat dolar AS terapresiasi, harga emas akan terkoreksi.

Ini karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS. Kala dolar AS menguat, maka emas jadi mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

Keperkasaan dolar AS ditopang oleh data penjualan ritel yang mengejutkan. Pada Agustus 2021, penjualan ritel di Negeri Adidaya tumbuh 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Jauh membaik ketimbang Juli 2021 yang minus 1,8% mtm. Juga jauh lebih baik dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan minus 0,8% mtm.

Pertumbuhan penjualan ritel tersebut memberi gambaran bahwa konsumsi di Negeri Adikuasa tetap kuat. Artinya, tekanan inflasi itu nyata dan stabil.

Tekanan inflasi, yang menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat setelah dihantam pandemi virus corona, membuat pasar kembali meyakini bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bisa segera melakukan pengetatan kebijakan atau tapering. Ini diawali dengan mengurangi pembelian surat berharga (quantitative easing) yang sekarang bernilai US$ 120 miliar setiap bulannya.

Pengurangan quatitative easing akan membuat pasokan dolar AS tidak lagi berlimpah seperti sekarang. Seperti barang, pasokan yang berkurang akan membuat harga naik.

Penguatan dolar AS tentu akan memakan korban. Bukan hanya mata uang lain, harga emas juga sepertinya bakal tertekan.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan