BI Beberkan Alasan Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS

Equityworld Medan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu terakhir mengalami tekanan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Rp 14.308. Dari data Reuters, dolar AS tercatat Rp 14.300 dengan tertinggi Rp 14.330 dan terendah Rp 14.260.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan saat ini dinamika ekonomi global masih terus bergerak. Misalnya ketika Chairman The Federal Reserve Jerome Powell mengumumkan tidak akan menaikkan bunga. Tapi pasar berekspektasi akan terjadi penurunan bunga kebijakan hingga akhir tahun.

Dia mengungkapkan, arah suku bunga ke depan sesuai dengan ekspektasi pasar. “Kalau dilihat dolar AS semalam itu melemah, karena jika dilihat laporan tenaga kerja AS yang dirilis kemarin itu bisa dilihat angkanya memang solid tapi tingkat earning yang masih rendah, inflasi yang jauh dari perkiraan nah ini pengaruh,” ujar Nanang di Gedung BI, Jakarta, Senin (6/5/2019).

Nanang mengatakan dengan angka inflasi yang di bawah target membuat indeks dolar menghadapi ketidakpastian. Apalagi statement Presiden Donald Trump terkait kesepakatan dengan China turut memberikan kejutan kepada pasar, karena itu dolar AS yang sempat melemah namun akhirnya berbalik.

Menurut dia, dinamika seperti hal tersebut memang bisa berubah dalam waktu singkat. Statement Trump akan pengaruh untuk jangka pendek. “Statement presiden AS ini luar biasa dan memicu jatuhnya harga saham di China dan ini lebih ke risk off global jangka pendek dan disikapi sebagai fluktuasi yang biasa,” ujarnya.

Dia menambahkan sedangkan dari sisi domestik permintaan valuta asing (valas) memang agak meningkat pada kuartal pertama. “Pola musiman permintaan valas agak meningkat biasanya untuk repatriasi, dividen dan pembayaran impor. Biasanya kuartal 2 dan kuartal 3 akan turun lagi, itu musiman yang harus dihadapi,” jelas dia.

Dari sisi domestik, Nanang menyebut angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5,07% memang di bawah ekspektasi pasar yakni 5,2%.

“Tapi kita juga harus lihat dan komparasi dengan negara lain. Pertumbuhan ekonomi di atas 5% itu cukup solid,” jelas dia.

Menurut Nanang, pada kuartal II seharusnya pertumbuhan ekonomi bisa meningkat karena ekonomi bergerak dinamis pada kuartal II dan kuartal III.

Sehingga pertumbuhan ekonomi 5,07% jangan dianggap sebagai sesuatu pesimisme dibandingkan negara lain. “Ekonominya relatif cukup solid dan kuat, jadi kalau dilihat dampaknya dari produk domestik bruto tidak ada yang terpengaruh. Karena memang ini juga dipengaruhi faktor global,” jelas dia.

Sumber : detik.com

PT. Equityworld Medan
EWF Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2019
Loker EWF Medan