Buat Newbie Uang Kripto! Ini Beda Ethereum dengan Bitcoin

Chia, Uang Kripto yang Lebih Hemat Energi dari Bitcoin

PT Equityworld Futures Medan- juga mulai membuat jenis-jenis mata uang itu juga mulai dikenal. Bukan hanya Bitcoin, nama Ethereum pun juga mencuri perhatian.
Cryptocurrency terbesar kedua di dunia ini mencetak rekor tertingginya pada Senin (10/5/2021) di atas US$4.000. Sepanjang 2021, nilai Ethereum sudah meningkat 450%.

Nama Ethereum juga sering didengar karena mulai banyak orang yang tertarik dengan token Non-fungible atau NFT.

Untuk mengenalnya lebih jauh, berikut tiga fakta soal Ethereum, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (11/5/2021).

Ether merupakan mata uang asli Ethereum, sebuah platform Blockhain open-source. Ethereum didirikan oleh programmer asal Rusia-Kanada bernama Vitalik Buterin dan sejumlah pengusaha kripto lain. Banyak yang memulai Ethereum telah terjun dulu dalam Bitcoin sebelumnya.

Menurut Buterin, Bitcoin terlalu terbatas fungsinya. Dalam wawancara dengan Business Insider, membandingkannya dengan kalkulator yang melakukan satu hal, sementara Ethereum seperti smartphone ada banyak aplikasi yang bisa digunakan.

Ethereum dibangun di atas teknologi Blockchain, jaringan komputer terdistribusi dan mencatat seluruh transaksi mata uang kripto. Bedanya dengan Bitcoin, tiap orang bisa membuat aplikasi di atas Ethereum.

Ethereum dihubungkan dengan kontrak pintar, yaitu kumpulan kode untuk menjalankan sejumlah instruksi dan tentunya berjalan di atas Blockhain.

Kontrak ini didukung oleh aplikasi terdesentralisasi atau dapss. Pada intinya sama seperti aplikasi yang dijalankan oleh sistem operasi Android atau iOS.

Jaringan Ether juga makin dikenal karena meroket nya aktivitas token Non-fungible atau NFT. Ini adalah aset digital untuk mencatat kepemilikan barang virtual.

Pada dasarnya Bitcoin merupakan jaringan pembayaran yang bisa digunakan untuk transfer nilai antara dua orang. Terutama digunakan untuk investasi.

Sementara Ethereum menciptakan infrastruktur bagi internet. Namun tidak ada otoritas tunggal yang mengelola cryptocurrency itu.
Ethereum juga masih jauh dari sempurna. Misalnya tahun 2017 saat gim CryptoKitties yang popularitas melambung tinggi dan menyebabkan jaringan Ether sangat padat.

Kepadatan itu membuat transaksi menjadi melambat dan membuat pengembang game menaikkan biayanya.

Skalabilitas menjadi masalah besar dalam jaringan Ethereum hari ini. Sekarang dioperasikan menggunakan protokol proof-of-work sama seperti Bitcoin. Artinya penambang dengan komputer dibuat khusus harus bersaing memecahkan teka-teki matematika komplek untuk validasi transaksi.

Ini sebabnya kritik bermunculan, mereka khawatir dengan energi besar yang dikonsumsi oleh jaringan itu.

Sekarang Etheterum sedang dalam peningkatan ambisius bernama Ethereum 2.0. Ini membuat perpindahan ke model proof-of-stake yang bergantung stake yang telah memegang sejumlah Ether untuk memproses transaksi baru.

Dengan peningkatan ini menurut para investor kripto dapat membantu jaringan Ethereum bekerja dalam skala besar., Termasuk memproses lebih banyak transaksi dengan lebih cepat dan mendukung aplikasi yang memiliki banyak pengguna.

Selain itu bisa menyebabkan apresiasi harga dalam jangka pendek. Lebih banyak Ether yang disembunyikan dalam periode ‘penguncian’ oleh pemegang token berusaha menjadi pemegang dan memvalidasi transaksi dalam jaringan baru.

Namun masih banyak juga yang skeptis atas mata uang digital seperti Bitcoin dan Ether, layaknya gelembung kripto pada 2017. Namun juga ada yang sangat yakin karena adanya peningkatan minat pada investor institusional

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan