Buka Mata Pasang Telinga, Elit The Fed Hari Ini Buka Suara

Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell leaves after his news conference after a Federal Open Market Committee meeting in Washington, U.S., December 19, 2018. REUTERS/Yuri Gripas

PT Equityworld Futures Medan-Pasar finansial dalam negeri bervariasi pada pekan lalu, dengan isu utama pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed). Selain itu ada juga kasus raksasa properti China, Evergrande Group.
Di awal pekan ini, Senin (27/9/2021), pasar keuangan masih belum akan kompak, sebab ada beberapa isu yang mempengaruhi salah satunya yakni beberapa pejabat elit The Fed yang akan berbicara mengenai kondisi ekonomi dan kebijakan moneter.

Pernyataan para elit The Fed, khususnya jika ada detail tapering bisa berdampak signifikan ke pasar finansial hingga besok. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi pasar hari ini akan dibahas pada halaman 3 dan 4.

Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,19% ke 6.114,815, padahal sebelumnya sempat ambrol hingga ke bawah level psikologis 6.000. Dengan kinerja positif tersebut, IHSG membukukan penguatan 2 pekan beruntun.

Data pasar mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih senilai Rp 2,75 triliun di pasar reguler.

jkse
Rupiah mencatat kinerja sebaliknya, melemah 2 pekan beruntun. Sepanjang pekan lalu Mata Uang Garuda tercatat melemah 0,21% melawan dolar AS ke Rp 14.255/US$.

Obligasi Indonesia juga bernasib sama. Harga Surat Berharga Negara (SBN) nyaris semuanya mengalami pelemahan. Hanya SBN tenor 3 tahun yang menguat, terlihat dari imbal hasilnya yang turun 2,7 basis poin ke 4,587%.

idr
Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, ketika harga naik yield akan turun, begitu juga sebaliknya.

Kasus Evergrande Group yang berisiko gagal bayar membuat sentimen pelaku pasar memburuk di awal pekan, yang menyulitkan pasar finansial Indonesia untuk menguat. Tetapi, kecemasan akan gagal bayar tersebut mereda setelah bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menyuntikkan likuiditas yang besar ke pasar.

Sementara itu The Fed yang paling dinanti pelaku pasar. Pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed mengumumkan kebijakan moneter, yang hasilnya masih sesuai ekspektasi pelaku pasar untuk tapering, tetapi ada kejutan terkait proyeksi suku bunga.

Bank sentral pimpinan Jerome Powell ini menyatakan akan segera melakukan tapering, tetapi belum ada waktu resminya kapan. Sementara pasar bereskpektasi The Fed akan mengumumkannya di bulan November dan tapering pertama dilakukan bulan Desember.

Sementara itu untuk proyeksi suku bunga, terlihat dari dot plot. Setiap titik dalam dot plot tersebut merupakan pandangan setiap anggota The Fed terhadap suku bunga.

Dalam dot plot yang terbaru, sebanyak 9 orang dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) kini melihat suku bunga bisa naik di tahun depan. Jumlah tersebut bertambah 7 orang dibandingkan dot plot edisi Juni. Saat itu mayoritas FOMC melihat suku bunga akan naik di tahun 2023.

Artinya, terjadi perubahan proyeksi suku bunga yang signifikan. Kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari sebelumnya lebih berisiko memicu capital outflow dari Indonesia, dan negara emerging market lainnya, sehingga menimbulkan gejolak di pasar finansial global. Apalagi, jika The Fed nantinya agresif dalam menaikkan suku bunga.

Kasus Evergrande dan pengumuman kebijakan moneter The Fed juga sangat berdampak pada pergerakan bursa saham AS (Wall Street) di awal pekan, Wall Street terpuruk, tetapi setelahnya sukses bangkit hingga mencatat penguatan mingguan.
Indeks S&P 500 di dua hari pertama perdagangan merosot nyaris 3% sebelum sukses menguat 3 hari beruntun. Dalam sepekan, S&P 500 mencatat penguatan 0,51% ke 4.455,48, sekaligus menghentikan pelemahan dua pekan beruntun.

idr
Indeks Dow Jones juga sama, setelah membukukan pelemahan 3 minggu beruntun berlanjut ambrol sebelum sukses mencatat penguatan 0,62% ke 34797,99.
Sementara Nasdaq menguat tipis 0,02% ke Rp 14.530,7, setelah sebelumnya jeblok hingga 3,4%.

“Ketika hal buruk terjadi di pasar saham hari Senin, rebound di pertengahan pekan, dan kalem di hari Jumat bukanlan sesuatu hal yang buruk. Tetapi, kecemasan akan Evergrande, pelambatan ekonomi, dan masalah supply chain masih ada di sini,” kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di LPL Financial, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (24/9).

Hingga saat ini, investor masih menanti perkembangan kasus Evergrande yang harus membayar bunga obligasi jatuh tempo berdenominasi dolar AS pada Kamis pekan lalu senilai US$ 83 juta. Hingga saat ini pihak Evergrande belum ada berkomentar dan punya waktu 30 hari sebelum secara teknis dikatakan gagal bayar (default).

Sementara itu The Fed yang sesuai ekspektasi belum mengumumkan tapering memicu kebangkitan Wall Street. Selain itu, beberapa pelaku pasar juga menganggap sikap The Fed tersebut dovish.

“Pengumuman tapering kemungkinan akan dilakukan pada November, fakta bahwa mereka tidak melakukan hari ini menunjukkan FOMC masih dovish,” kata Peter Boockvarm kepala investasi di Belakley Advisory Group.

Wall Street sepanjang pekan lalu memang sukses mencatat penguatan, tetapi pergerakan pada perdagangan Jumat masih menunjukkan belum bagusnya sentimen pelaku pasar. Risiko gagal bayar Evergrande masih akan menjadi perhatian pelaku pasar di awal pekan ini.
Seperti disebutkan sebelumnya, pada pekan lalu utang obligasi Evergrande sudah jatuh tempo dan belum dibayarkan, dan perusahaan punya 30 hari sebelum secara teknis dinyatakan default. Total utang Evergrande dilaporkan sebesar US$ 305 miliar.

Hingga saat ini belum ada pernyataan yang keluar dari Evergrande, sehingga pelaku pasar menanti kejelasannya.

Evergrande merupakan raksasa pengembang di China, memiliki 1.300 bangunan di 280 kota. Evergrande juga berinvestasi di perusahaan mobil listrik, media, tim sepakbola, dan lain-lainnya.

Reuters yang mengutip Caixin Minggu kemarin melaporkan beberapa pemerintah daerah China telah menyiapkan rekening kustodian khusus untuk proyek perumahan yang dijalankan Evergrande. Rekening tersebut bertujuan untuk memastikan pembayaran yang dilakukan pembeli rumah digunakan untuk proyek perumahan Evergrande, bukan untuk keperluan lain, misalnya pembayaran ke kreditur.

Setidaknya, ada 8 provinsi di China yang sudah melakukan hal tersebut, dimana proyek Evergrande belum rampung.

Perkembangan kasus Evergrande akan mempengaruhi pergerakan bursa saham, termasuk IHSG pada hari ini.

Selain itu, pelaku pasar juga masih mencerna pengumuman kebijakan moneter The Fed yang membuat yield obligasi (Treasury) naik dan dolar AS perkasa. Sepanjang pekan lalu yield Terasury AS tenor 10 tahun naik 8,9 basis poin, ke 1,4526% yang membuat SBN mengalami tekanan jual.

Sementara itu indeks dolar AS juga menguat tetapi tipis saja 0,14% sepanjang pekan lalu, yang berdampak pada sulitnya rupiah menguat.

Tapering The Fed memang masih sesuai ekspektasi, kemungkinan besar dilakukan di bulan Desember, tetapi kemungkinan suku bunga yang naik di tahun depan membuat yield Treasury naik dan dolar AS kuat.

Pada hari ini, ada 3 pejabat elit The Fed yang akan berbicara dan pelaku pasar akan menanti hal tersebut untuk melihat petunjuk lebih jauh mengenai tapering maupun proyeksi suku bunga. Presiden The Fed wilayah Chicago, Charles Evans, akan berbicara mengenai kondisi ekonomi dan kebijakan moneter dalam acara yang diselenggarakan oleh National Association for Business Economics.

Gubernur The Fed Lael Brainard, juga berbicara dalam acara tersebut.

Kemudian ada Presiden The Fed wilayah New York, yang akan berbicara dalam acara yang diselenggarakan Economic Club of New York.

Meski yield Treasury sedang menanjak, dan dolar AS sedang kuat, rupiah juga punya modal menguat sebab pelaku pasar kini mengambil posisi beli (long) rupiah, bahkan menjadi yang terbaik dibandingkan mata uang Asia lainnya.
Hal tersebut tercermin dari survei 2 mingguan yang dilakukan Reuters yang menunjukkan pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap rupiah, bahkan menjadi yang terbesar diantara 9 mata uang Asia lainnya.

Survei tersebut menggunakan skala -3 sampai 3, angka negatif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) mata uang Asia dan jual (short) dolar AS. Semakin mendekati -3 artinya posisi long yang diambil semakin besar.

Sementara angka positif berarti short mata uang Asia dan long dolar AS, dan semakin mendekati angka 3, semakin besar posisi short mata uang Asia.

IDR
Survei terbaru yang dirilis hari ini, Kamis (23/9/2021) menunjukkan angka untuk rupiah di -0,50, membesar dari 2 pekan lalu -0,44.

Rupiah kini menjadi mata uang dengan posisi long terbesar di Asia, mengalahkan rupee India yang disurvei kali ini turun menjadi -0,45% dari sebelumnya -0,88%.

Survei ini konsisten dengan pergerakan rupiah, ketika pelaku pasar mengambil posisi long, maka rupiah akan cenderung menguat, begitu juga sebaliknya.

Reuters menyebutkan, pelaku pasar mempertahankan posisi long setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di pekan lalu. Maklum saja, dengan posisi inflasi yang rendah, BI punya ruang untuk menurunkan suku bunga.

Fitch Solutions dalam laporan bulanan edisi Agustus dengan judul Delta Variant a Severe Threat to Asia’s Growth Recovery, memprediksi di akhir tahun ini suku bunga BI berada di 3,25%, artinya turun 25 basis poin dari level saat ini.

Dengan dipertahankannya suku bunga, imbal hasil menjadi tetap menarik bagi pelaku pasar.

Selain itu, kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang sudah terkendali di Indonesia juga membuat sentimen terhadap rupiah membaik.

Kemarin kasus baru dilaporkan bertambah sebanyak 1.760 orang, dengan positivity rate 1,18%. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas 5% agar pandemi bisa disebut terkendali. Artinya, Indonesia bisa dikatakan sudah terkendali, sebab positivity rate jauh di bawah batas 5%.

Selain itu untuk wilayah Jawa-Bali sudah tidak ada lagi yang masuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Senin pekan lalu, yang juga memperpanjang PPKM Jawa-Bali hingga 4 Oktober mendatang.

Pemerintah juga melakukan penyesuaian aktivitas masyarakat dalam ketentuan terbaru PPKM yang berlaku hingga dua pekan depan. Salah satunya adalah uji coba pembukaan pusat perbelanjaan/mal bagi anak-anak di bawah 12 tahun.

“Akan dilakukan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan mal bagi anak-anak di bawah usia kurang dari usia 12 tahun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua,” ujar Luhut dalam keterangan pers, Senin (20/9/2021).

Menurut dia, kebijakan itu akan diterapkan di wilayah Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Jika berjalan lancar, pelonggaran yang dilakukan pemerintah tentunya bisa memutar roda bisnis lebih kencang.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
Pidato presiden ECB, Christine Lagarde (pukul 18:45 WIB)
Pidato Fed Evans (pukul 19:00 WIB)
Data pesanan barang tahan lama AS (pukul 19:30 WIB)
Pidato Fed Williams (pukul 23:00 WIB)
Pidato Fed Brainard (pukul 23:15 WIB)

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan