Equity World – Jakarta Saham-saham di Bursa Asia menguat setelah kesepakatan untuk memangkas produksi minyak berimbas positif untuk saham energi. Ditambah menguatnya ekonomi Amerika Serikat yang melemahkan surat utang dan membuat dolar kian perkasa.

Saham komoditas melanjutkan penguatan, terutama di Jepang dan Australia setelah pertemuan OPEC menyepakati pemangkasan produksi untuk pertama kalinya sejak 8 tahu. Itu membuat harga minyak AS sedikit di bawah US$ 50 per barel.

Saham eksportir Jepang juga mendapatkan angin segar setelah dolar menguat terhadap yen. Mata uang Korea Selatan won paling terpukul di Asia.

Kesepakatan soal produksi minyak membawa stabilitas ke pasar finansial, diputus oleh kejutan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. Minyak mentah AS menyenggol level US$ 50 per barel, dan memberikan dukungan lebih besar untuk apa yang disebut reflation trade.

“Reflation trade berlanjut. Kali ini Trump berada di kursi belakang, sementara Rusia dan OPEC berinisiatif dan menyalakan mesin di bawah harga minyak,” ujar Kepala Pasar Strategis di IG Ltd, Chris Weston seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis (1/12/2016).

Indeks Asia Pasifik The MSCI pada pukul 09.21 waktu Tokyo menambahkan 0,4 persen, mengakhiri dua hari penurunan ditopang oleh saham energi yang naik 2,4 persen. Sementara indeks Topix Jepang kembali ke level tertingginya sejak Januari, menguat 1,3 persen.

Indeks Australia S&P/ASX 200 menambahkan 0,6 persen, mengakhiri pelemahan 3 hari. Sementara indeks S&P New Zealand mendaki 0,3 persen, dan indeks Korea Selatan, Kospi hanya berubah sedikit.

Indeks S&P 500 berjangka hanya berubah sedikit di level 2.198,25, setelah indeks acuan itu tergelincir pada Rabu, memangkas keuntungan pada November 3,4 persen. Namun tetap kinerja paling baik sejak Juli.

EQUITY WORLD