Cari Cuan Ngikutin Bandar, Cek Ciri-ciri Saham ‘Digoreng’

Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)PT Equityworld Futures Medan-  Banyak investor yang sering menyebut saham tertentu sedang ‘dimainkan’ bandar. Belakangan, istilah bandar saham ini ramai diperbincangkan saat beberapa saham mengalami kenaikan harga tinggi, kemudian berbalik arah menjadi saham yang terkoreksi dalam.
Istilah “bandar saham” selalu dikonotasikan negatif menjadi penyebab banyak investor ritel banyak mengalami kerugian. Kerugian tersebut pada akhirnya menjadi ramai disuarakan di media sosial.

Selama ini ada persepsi yang keliru soal bandar saham, karena bandar saham di pasar modal biasanya diasosiasikan dengan bandar judi, yang punya kontrol dana atau para pejudi yang hanya bermodalkan peruntungan. Tentu ini menjadi keliru, karena bandar di pasar modal, sebenarnya punya fungsi tersendiri.

Penguasaan atas modal atau dana, memang sudah menjadi ciri umum bandar, mereka memang mencari gain dari kemampuan besar dana yang dimiliki. Namun keberadaan mereka menjadi penyedia likuiditas (likuidity provider) untuk membuat aktivitas perdagangan saham menjadi ramai.

Baca: Buat Newbie, Tahu Istilah Bandar Saham? Yuk Kita Kenalan
Eksistensi mereka ini bisa dalam bentuk institusi atau individu (dengan supporting system). Selama ini, investor asing yang memiliki likuiditas besar, disematkan sebagai salah satu bandar besar.

Lalu dalam perkembangan pasar modal di Indonesia, banyak investor ritel yang mencoba membaca alur transaksi para bandar ini. Salah satu caranya adalah dengan melihat akumulasi dan distribusi yang dilakukan investor asing lewat transaksi dari broker-broker.

Pendekatan atau cara inilah. yang kemudian dikenal dengan istilah, Bandarmology.

Nah, dengan pendekatan ini bagaimana investor bisa tahu suatu saham sedang dimainkan oleh bandar?

Professional trader dan Owner Creative Trading System, Argha Jonatan Karo karo menyebut beberapa ciri-ciri saham yang harganya digerakkan oleh bandar.

“Ciri yang pasti harga sahamnya naik,” ujarnya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (10/2/2021).

Ciri kedua adalah ada pemain besar yang membeli saham di harga bawah, dengan harapan bisa menaikkan harga saham tersebut. Menurutnya, cara untuk menaikkan harga saham tersebut tidaklah sulit.

“Di antrian, dia beli. Tidak butuh laporan keuangan, tidak butuh perusahaannya melakukan aksi apa-apa. Cara menaikkan harga, di over semua, beli lalu harga sudah naik,” katanya.

Namun, sebagai penggerak saham, memang bukan perkara mudah untuk menjual saham yang dimiliki. Menurutnya, jika hanya hitungan 1.000 lota bisa dikatakan mudah. Akan sulit jika saham yang siap dijual berada di kisaran ratusan ribu lot.

“Misal jualan, saya harus cari pembeli. Misal ada 500 ribu lot, butuh memancing pembeli. Itulah gunanya pom-pom saham,” katanya lagi.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah siapa sebenarnya bandar saham ini? “Yaa.. tergantung anda ngomong saham apa. Kalau saham-saham blue chip, naik turun tergantung investor asing. Mau laba naik/turun, kalau asing jual besar-besaran, harga saham turun,” ujarnya.

Menurutnya, sepanjang tak pernah indeks mengalami penurunan saat investor asing sedang melakukan aksi beli besar-besaran. Sebab saham-saham blue chip memang digerakkan oleh investor asing.

Dia juga menjelaskan, harga saham tak digerakkan oleh berita. Sebab, berita dibuat setelah harga saham bergerak. Disinilah peran dari penggerak pasar bekerja sehingga harga saham naik atau turun.

“Digerakkan oleh yang punya uang banyak atau punya saham banyak. Orang yang punya saham banyak bisa punya uang banyak. Itulah market maker. Bisa gabungan individu dan institusi,” jelasnya.

Belakangan ini, jumlah investor ritel mengalami kenaikan saat pandemi dan banyak diantaranya adalah kelompok milenial yang mulai mencoba berinvestasi di pasar modal.
Tak sedikit dari mereka yang ikut-ikutan arus ketika memutuskan membeli suatu saham. Namun banyak juga diantaranya mau belajar dan memantau pergerakan pasar.

Untuk itu, kata Argha investor ritel ini harus mengerti bagaimana supaya tidak jatuh terlalu dalam. Hal ini terutama agar tidak terkecoh dengan saham gorengan yang digerakkan oleh bandar, orang yang menggerakkan pasar modal.

“Tak ada cara mudah menjelaskan. Cara sederhana, kalau ada saham dipromosikan di mana-mana, jangan beli saham itu. Karena anda disuruh beli artinya ada orang yang jualan,” katanya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (10/2/2021).

Adapun saham yang digerakkan oleh bandar menurutnya bisa dilihat melalui ciri-ciri sebagai berikut. “Ciri yang pasti harga sahamnya naik,” tegasnya.

Ciri kedua adalah ada pemain besar yang membeli saham di harga bawah, dengan harapan bisa menaikkan harga saham tersebut. Menurutnya, cara untuk menaikkan harga saham tersebut tidaklah sulit.

“Di antrian, dia beli. Tidak butuh laporan keuangan, tidak butuh perusahaannya melakukan aksi apa-apa. Cara menaikkan harga, di over semua, beli lalu harga sudah naik,” katanya.

Namun, sebagai penggerak saham, memang bukan perkara mudah untuk menjual saham yang dimiliki. Menurutnya, jika hanya hitungan 1.000 lota bisa dikatakan mudah. Akan sulit jika saham yang siap dijual berada di kisaran ratusan ribu lot.

“Misal jualan, saya harus cari pembeli. Misal ada 500 ribu lot, butuh memancing pembeli. Itulah gunanya pom-pom saham,” pungkasnya

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan