Di Kurs Tengah BI dan Pasar Spot, Dolar AS Sudah Rp 15.200-an

Pasar Skeptis Sikapi StimulusPT Equityworld Medan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga merah di pasar spot, setelah sempat hijau pada awal-awal perdagangan.

Pada Rabu (18/3/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.223. Rupiah melemah 0,93% dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Sementara di pasar spot, rupiah yang awalnya hijau berbalik merah. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 15.205 di mana rupiah melemah 0,3%. Mata uang Tanah Air berada di posisi terlemah sejak Oktober 2018.

Rupiah tidak sendiri karena berbagai mata uang utama Asia juga terdepresiasi di hadapan dolar AS. Sejauh ini hanya yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura yang mampu menguat.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 10:08 WIB:

Gegara Corona, Ekonomi China Diramal Minus!
Optimisme sempat muncul di pasar setelah melihat kinerja Wall Street. Dini hari tadi, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melonjak 5,2%, S&P 500 melesat 6%, dan Nasdaq Composite meroket 6,23%.

Penguatan ini terjadi setelah tiga indeks tersebut melemah sangat parah, sampai ke kisaran 12%. Itu adalah pelemahan harian terdalam sejak 1987.

Akan tetapi, investor kemudian kembali ke mode risk-off (menghindari risiko) melihat perkembangan penyebaran virus corona. Mengutip data satelit pemetaan ArcGis per pukul 07:53 WIB, jumlah kasus virus corona di seluruh dunia hampir mencapai 200.000 tepatnya 197.126. Sementara korban jiwa nyaris 8.000 yaitu 7.905 orang.

Gara-gara corona, ekonomi global diramal terkontraksi alias tumbuh negatif. Goldman Sachs, bank ternama asal AS, memperkirakan perekonomian China terkontraksi hingga 9% pada kuartal I-2020. Jauh memburuk dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu tumbuh 2,5%.

Sementara untuk keseluruhan 2020, Goldman Sachs memproyeksi pertumbuhan ekonomi China di angka 3%. Jauh melambat ketimbang proyeksi sebelumnya yang sebesar 5,5%.

China adalah perekonomian terbesar kedua di dunia dan pemain kunci di rantai pasok global. Jadi kalau ekonomi China terkontraksi, maka seluruh dunia akan merasakannya.

Pasar Skeptis Sikapi Stimulus
Pelaku pasar juga sepertinya skeptis merespons stimulus dari otoritas moneter maupun fiskal. Berbagai bank sentral di dunia ramai-ramai memangkas suku bunga acuan, sementara pemerintah menggelontorkan anggaran miliar dolar AS untuk meredam dampak penyebaran virus corona.

Namun masalahnya, stimulus fiskal seperti ini bertujuan untuk mendorong permintaan (demand). Sementara virus corona menyerang sisi lain dari perekonomian yaitu pasokan (supply).

Akibat serangan virus corona, banyak negara yang melakukan karantina wilayah (lockdown). Ini membuat kantor dan pabrik tidak beroperasi. Artinya, output produksi menjadi berkurang dan terjadi kelangkaan. Jadi walau permintaan naik, kalau barangnya tidak ada mau apa?

“Kami menilai pengambil kebijakan tidak bisa menganggap enteng risiko tekanan di sisi pasokan. Jika ini berlangsung lama, maka output manufaktur global akan turun dan menyebabkan inflasi,” tegas Putera Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas, seperti dikutip dari risetnya.

Situasi yang masih penuh tantangan seperti ini membuat investor berpikir ribuan kali untuk masuk ke instrumen berisiko di pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia. Akibatnya, rupiah masih sulit mendapatkan momentum untuk bangkit.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan