Equity World Medan – Proses digitalisasi di perusahaan asuransi umum belum maksimal. Dalam pandangan Direktur Utama PT Asuransi Buana Independent (ABI) I Made Marka, hal itu belum terjadi karena variasi bisnis di asuransi umum beragam. “Beda dengan di asuransi jiwa yang lebih homogen,” katanya, kemarin.

Marka yang terbilang senior berkecimpung di bisnis asuransi kerugian atau umum menerangkan bahwa pada bisnis asuransi umum ada banyak syarat dalam penutupan asuransi. Sementara, layanan asuransi umum beragam mulai dari properti, kendaraan bermotor hingga pengiriman barang.

Ia memberi contoh penutupan asuransi pabrik. “Kami harus mendatangi sendiri pabrik itu untuk melihat apakah pabrik itu bersih kondisinya? Penjagaan terhadap jaminan kebakaran seperti apa? Itu banyak sekali,” tuturnya.

Sementara itu, terkait ABI, I Made Marka mengatakan bahwa sampai dengan 2017 usai, pihaknya sudah merealisasikan sekitar 50 persen dari target premi bruto. “Tahun ini targetnya Rp 306 miliar,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan pencapaian pada 2016, lanjut Marka, pihaknya berhasil meningkatkan pertumbuhan hingga 3 persen dari total premi. Dari total premi itu, pertumbuhan 9 persen dicapai oleh bisnis bidang properti.

Per 2016, ABI berhasil meraih laba sebelum pajak mencapai Rp 48,23 miliar. Angka ini naik 65 persen dari posisi raihan pada 2015. Sampai dengan 2015 berakhir, raihan laba sebelum pajak ABI adalah Rp 29,23 miliar.

Menurut Marka, sejak menjadi perusahaan pada 60 tahun silam, ABI mempunyai 50 layanan asuransi umum di bidang properti. Kemudian, di bidang kendaraan bermotor mencapai 35 persen. Lantas, bidang pengangkutan barang khususnya kargo 11 persen. “Sisanya, aneka bidang 4 persen,” pungkas I Made Marka.

Sumber: Komps.com

PT Equityworld Futures
EWF Medan