Duh Transaksi Sepi! 10 Saham Terbanyak Dijual Asing Sebulan

PT Equityworld Futures Medan-Saham-saham big cap alias berkapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun, terbanyak dari sektor perbankan, menjadi incaran bagi investor asing untuk melakukan aksi jual (net sell) di pasar modal dalam sebulan terakhir perdagangan.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam sebulan terakhir (30 hari perdagangan akumulatif) hingga Selasa (27/4/2021), empat bank big cap masuk catatan net sell asing paling besar.

Keempatnya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar (market cap) Rp 514 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 790 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 282 triliun, dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 139 triliun.

Net sell terbesar yakni Bank BRI dengan besaran Rp 2,2 triliun.

Baca: Ditopang Relaksasi PPnBM, BRI Finance Bidik Pembiayaan Rp 2 T
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup minus 0,09% di 5.959 pada perdagangan Selasa kemarin. Sayangnya nilai transaksi masih di bawah Rp 10 triliun, yakni Rp 9,76 triliun dari awal tahun yang biasanya sempat bahkan di atas Rp20 triliun per hari.

Berikut 10 saham dengan catatan net sell terbesar dalam sebulan terakhir di pasar reguler.

10 Top Foreign Net Sell Asing (Reguler) Sebulan
1. Bank BRI (BBRI), net sell Rp 2,2 T, saham -11,65% Rp 4.170

2. Bank Central Asia (BBCA), Rp 1,5 T, saham +0,71% Rp 32.025

3. Bank Mandiri (BMRI), Rp 409 M, saham -5,10% Rp 6.050

4. Bank BTN (BBTN), Rp 268 M, saham -11,94% Rp 1.585

5. Merdeka Copper (MDKA), Rp +6,09% Rp 2.440

6. Tjiwi Kimia (TKIM), Rp 164 M, saham -15,93% Rp 10.025

7. Sarana Menara (TOWR), Rp 161 M, saham +0,45% Rp 1.105

8. Ciputra Development (CTRA), Rp 99 M, saham -2,53% Rp 1.155

9. Charoen Pokhphand (CPIN), Rp 97 M, saham -4,53% Rp 6.850

10. Bank Jago (ARTO), Rp 96 M, saham -0,25% Rp 10.025.

Adapun satu bank BUMN big cap yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) justru mampu mencatatatkan beli bersih asing Rp 151 miliar dengan koreksi saham 2-48% di Rp 5.900/saham dalam sebulan terakhir. Market cap BBNI yakni sebesar Rp 110 triliun.
Saham BBNI masuk urutan ketiga terbesar net buy setelah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) Rp 390 miliar (saham naik 32,04% Rp 2.720) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 173 miliar (saham minus 0,92% Rp 21.600).

Analis PT BRI Danareksa Sekuritas, Eka Savitri, menilai saham-saham big cap masih jadi acuan pasar saat ini di tengah tren maraknya bank digital.

Sebab itu, Eka menegaskan hal terpenting yang menjadi pertimbangan memilih sebelum memilih saham ialah fundamental perbankan tersebut.

“Fundamental saja, saya masih lebih suka saham-saham big caps [kapitalisasi besar], secara bisnis model seperti apa,” ujar Eka kepada CNBC Indonesia dalam acara BRI Cuap Cuap Cuan Berkah.

Apalagi, lanjutnya, banyak hal yang harus dilihat terkait bagaimana kondisi tahun ini. Bank-bank mana yang fokus dan kuat di segmen tertentu misalnya korporasi hingga UMKM, atau bahkan segmen pembiayaan perumahan.

Tak hanya indikator tersebut, faktor lain seperti laju kredit (loan growth), margin bunga bersih (net interest margin/NIM), tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) hingga kredit bermasalah atau NPL (non performing loan) juga masih harus menjadi acuan. Untuk NPL misalnya, perlu mengetahui apakah naik atau turun.

“Kemudian valuasi [harga saham]. Valuasi mahal tapi punya unit bisnis model cukup bisa justifikasi,” tegasnya.
Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan

Tinggalkan Balasan