Efek Utang Evergrande Rp 4.000 T, Bursa Asia Ambruk Lagi!

FILE PHOTO: People gather to demand repayment of loans and financial products at the lobby of Evergrande's Shenzhen headquarter, Guangdong province, China September 13, 2021. REUTERS/David Kirton/File Photo

PT Equityworld Futures Medan-Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (21/9/2021), di tengah sikap investor yang terus memantau perkembangan krisis likuiditas dari perusahaan raksasa properti China, China Evergrande Group.
Indeks Nikkei Jepang langsung dibuka ambles 1,68%, setelah sehari sebelumnya tidak dibuka karena adanya libur nasional. Sedangkan Hang Seng Hong Kong kembali dibuka ambruk 1,31%.

Namun untuk indeks Straits Times Singapura (STI) dibuka naik 0,1% pada perdagangan pagi hari ini. Selang 30 menit setelah dibuka, penguatan STI sedikit terpangkas, yakni naik tipis 0,02%.

Sementara untuk indeks Shanghai Composite China dan KOSPI Korea Selatan tidak dibuka karena masih libur nasional.

dapat terus membebani sentimen investor di Asia, bahkan juga di global, di mana pada perdagangan kemarin, indeks Hang Seng di Hong Kong ditutup ambruk lebih dari 3%.

Meskipun begitu, pemerintah China saat ini sedang berusaha lebih keras untuk mengatasi krisis likuiditas Evergrande agar permasalahan tersebut tidak berimbas lebih besar ke perekonomian China.

Belum lama ini Bloomberg memberitakan, seperti dikutip dari Reuters, otoritas perumahan China telah memberitahukan kepada bank-bank bahwa Evergrande tidak akan mampu membayar bunga pinjaman yang jatuh tempo pada 20 September 2021 karena kesulitan likuiditas.

Harga saham Evergrande anjlok 13% pada perdagangan perdana pekan ini.

Evergrande masih berupaya untuk menempuh jalur perpanjangan tenor pembayaran di sejumlah bank.

Perusahaan ini disebut memiliki kewajiban mencapai US$ 305 miliar atau setara dengan Rp 4.361 triliun (kurs Rp 14.300/US$). Jika tidak ada solusi, maka bisa menjadi risiko sistemik di sektor keuangan China

Di sisi lain, pasar saham Asia juga ikut mengekor bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street yang ditutup berjatuhan pada perdagangan Senin (20/9/2021) waktu setempat, akibat rasa cemas investor terkait prospek pemulihan ekonomi global.

Tiga indeks utama di Wall Street ditutup ambruk lebih dari 1%. Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup ambles 1,78% ke level 33.970,47, sedangkan S&P 500 ambruk 1,7% ke level 4.357,66 dan Nasdaq Composite anjlok 2,19% ke posisi 14.713,9.

Indeks kecemasan pasar, Cboe Volatility index, melompat di atas level 26, menjadi yang tertinggi sejak Mei tahun ini, menandakan bahwa investor semakin cemas.

Pasar juga mengkhawatirkan kegagalan persetujuan untuk memperlonggar batas penarikan utang pemerintah AS, untuk mencegah terhentinya layanan publik karena tak ada pemasukan untuk menggaji para pegawai negeri mereka.

Sementara itu dari perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) di AS, sentimen kembali memburuk di mana kasus Kasus Covid-19 akibat penyebaran varian delta kembali menyentuh level pada Januari awal tahun ini saat cuaca dingin mendekat di Amerika Utara.

Sebagian besar investor cenderung berhati-hati sembari memantau rapat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada periode September yang akan dimulai pada Selasa hari ini waktu setempat. Konferensi pers akan digelar pada Rabu waktu setempat, untuk mengumumkan kebijakan moneter dan diduga akan mulai menyinggung jadwal tapering.

Ketua The Fed, Jerome Powell sebelumnya telah mengatakan bahwa kebijakan pengurangan pembelian obligasi di pasar (tapering) bisa dijalankan tahun ini tetapi investor menunggu komentar Powell terkait dengan rilis data inflasi dan pengangguran terbaru

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan