Ekonomi China -6,8% Tapi Rupiah Menguat 1,6%, Sangar Betul…

Ekonomi China Minus, Tapi Rupiah Tetap MelajuPT Equityworld Futures Medan-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga menguat di perdagangan pasar spot.

Pada Jumat (17/4/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.503. Rupiah menguat signifikan 1,8% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Kabar serupa juga datang dari ‘arena’ pasar spot. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 15.345 di mana rupiah menguat tajam 1,63%.

Kala pembukaan pasar rupiah sudah menguat 0,77%. Selepas itu, mata uang Tanah Air semakin sangar dan membuat dolar AS lengser ke bawah Rp 15.400.

Sejauh ini pasar belum terpengaruh kabar buruk dari China. Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu melaporkan, ekonomi pada kuartal I-2020 terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8% year-on-year (YoY). Ini adalah kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992.

Namun, yang lalu biarlah berlalu. Kuartal I-2020 sudah dilalui dan hasilnya, ya begitulah. Sekarang mari menatap masa depan.

China adalah negara yang pertama merasakan pukulan pandemi virus corona (Coronavirus Desease-2019/Covid-19) karena virus itu memang bermula dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei. Namun, China pulih dengan sangat cepat.

“Beberapa indikator menunjukkan bahwa pada Maret pun sudah ada perbaikan dibandingkan Januari-Februari. Ini adalah bukti ekonomi China sudah pulih dari keterpurukan, meski secara bertahap. Jadi mulai kuartal II-2020 sepertinya kita akan melihat stabilitas, mungkin akan ada pertumbuhan di kisaran 2%,” papar Nathan Chow, Ekonom Senior DBS yang berbasis di Hong Kong, seperti dikutip dari Reuters.

Lagipula, pelaku pasar sudah mengira bahwa angka pertumbuhan ekonomi China bakal jeblok. Jadi pengumuman hari ini sudah masuk hitungan, sudah priced-in, sudah ketaker.

Pelaku pasar pun memilih untuk berpikir positif. Kebetulan situasi sedang mendukung untuk itu karena penyebaran virus corona terus menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per 16 April 2020 adalah 1.991.562 orang. Bertambah 76.647 orang dibandingkan hari sebelumnya.

Tambahan 76.647 orang sama dengan 4% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak 30 Maret, persentase laju pertumbuhan kasus baru semakin stabil di kisaran satu digit. Ini menandakan kurva jumlah pasien semakin melandai sehingga bukan tidak mungkin dalam waktu dekat bakal bergerak turun.

Sementara di AS, negara dengan kasus corona terbanyak di dunia, perkembangannya juga positif. Data US Centers for Desease Control and Prevention (CDC) menyebutkan jumlah pasien corona di Negeri Paman Sam adalah 632.548. Bertambah 4,49% dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan 4,49% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan hari sebelumnya yang sebesar 4,56%. Sejak 8 April, persentase kenaikan kasus corona di AS bertahan di kisaran satu digit dengan kecenderungan menurun.

Baca:Trump yang Buka Lockdown, Kok Malah Rupiah yang Senang?

Perkembangan ini membawa asa bahwa virus corona bukan akhir dari segalanya. Ternyata kita bisa bangkit dan memulihkan kembali aktivitas ekonomi yang nyaris lumpuh.

Harapan ini membuat investor tidak lagi bermain aman. Aset-aset berisiko yang harganya sudah ambles seambles-amblesnya kini menjadi barang koleksi yang seksi. Arus modal asing mengalir ke pasar keuangan negara-negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, rupiah mampu menguat.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan