Equityworld Futures – Sektor barang konsumer bisa menopang pasar saham ketika situasi ekonomi global kurang kondusif. Investor yakin, meski ekonomi buruk, konsumen tetap membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, termasuk juga produk makanan. Di sisi lain, sektor ini pun terpengaruh fluktuasi harga bahan baku.

Analis BCA Sekuritas Jennifer Frederika Yapply menurunkan rating sektor konsumer dari overweight menjadi neutral. Salah satu pertimbangan penurunan ini adalah mulai meningkatnya harga bahan baku, termasuk crude palm oil (CPO) juga skimmed milk powder (SMP). Sektor konsumsi juga harus menghadapi fluktuasi nilai tukar.

Menurut penilaian Jennifer, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) merupakan emiten yang berpotensi paling terpengaruh peningkatan harga bahan baku dan nilai tukar. Tekanan ini pun menimpa PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Jennifer mengestimasikan, laba kotor ICBP bakalan menurun 2,2% akibat kenaikan harga CPO dan SMP. Hal yang sama kemungkinan juga akan terjadi pada PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ). Dia memperkirakan, laba kotor ULTJ bisa turun 2%. Sedang laba kotor PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang 90% bahannya dibeli dengan menggunakan dollar AS akan turun 1,5%.

“Pendapatan di 2017 lebih datar, yang kami kira didukung oleh sifat defensif dari perusahaan,” tulis Jennifer dalam risetnya.

Jennifer lebih memilih sektor ritel yang memiliki ruang gerak lebih lebar. Potensi pertumbuhan pendapatan sektor konsumer tahun depan sekitar 11%, lebih rendah ketimbang sektor ritel 13%.

Proyeksi pertumbuhan laba sektor konsumer tahun depan hanya 6,1%, jauh lebih rendah ketimbang sektor ritel dengan prediksi kenaikan laba 20%.

Untuk sektor konsumer, ICBP menjadi saham pilihan Jennifer, dengan pertimbangan utang dollar AS yang mini, kemampuan memindahkan beban bahan baku ke harga, serta permintaan yang stabil.

Dang Maulida, Analis Daewoo Securities, melihat bahwa peningkatan harga komoditas justru memiliki pengaruh yang baik bagi sektor consumer good.

“Harga komoditas mempengaruhi daya beli masyarakat. Dulu, harga minyak dan batubara sempat mencapai angka US$ 100 dan berdampak positif pada daya beli,” kata Maulida pada KONTAN, Jumat (16/12).

Menurut dia, selain adanya peningkatan harga komoditas, hal yang juga mengerek harga daya beli lebih tinggi adalah indikator makro yang baik di tahun depan. Inflasi diprediksi berada di bawah 4% dan nilai tukar dollar AS berada di angka Rp 13.300, usai pemilihan presiden Amerika Serikat.

Kinerja sektor consumer good juga terlihat membaik di kuartal keempat ini. Hal ini juga terlihat dari peningkatan daya beli masyarakat di kuartal tiga tahun ini. Sebelumnya, di kuartal dua, kinerja emiten konsumer didukung oleh momen lebaran.

Menurut Maulida, penjualan di momen tersebut meningkat, didukung kebijakan moneter yang mendongkrak daya beli. Maulida menyebut, pertumbuhan pendapatan emiten consumer goods didukung peningkatan volume barang terjual.

Contoh, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatat volume penjualan naik 60%. UNVR juga menaikkan harga jual. Ini menyebabkan pendapatan UNVR naik 1%-2% di kuartal pertama dan 2,7% di Agustus dan September.

Sementara itu, Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menyatakan bahwa di tahun 2017, saham-saham sektor consumer goods masih ditopang banyak sentimen positif.

Kondisi makroekonomi dalam negeri yang positif akan menopang daya beli masyarakat dan otomatis berimbas ke sektor barang konsumer. “Rekomendasi kami saham UNVR, INDF, ICBP,” kata Hans.

Equityworld Futures