Gokil! Tembus US$ 1.800/Oz, Cuan Emas Tahun Ini Capai 19%

FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File PhotoPT Equityworld Futures Medan-Akhirnya waktu yang dinanti-nanti tiba. Kini harga emas sudah tembus ke atas level psikologis US$ 1.800/troy ons. Perdagangan kemarin menjadi sejarah harga emas cetak rekor tertingginya dalam sembilan tahun terakhir.

Namun pada perdagangan pagi ini Kamis (9/7/2020) harga emas agak sedikit terkoreksi. Pada 09.15 WIB, harga emas di pasar spot turun tipis 0,09% ke US$ 1.808,47/troy ons. Dengan harga emas di level saat ini, maka secara year to date logam mulia ini telah membukukan kenaikan hingga 19%.

Melambungnya harga emas tak terlepas dari minat investor yang tinggi. Investor banyak yang melirik emas lantaran mencari suaka dari risiko ketidakpastian global yang ada.

Bagaimanapun juga pandemi virus corona belum berakhir. Malahan dalam beberapa waktu terakhir jumlah kasus melonjak lagi. Kota-kota seperti Beijing, Leicester hingga Melbourne akhirnya menerapkan lockdown untuk menekan penyebaran virus.

Tensi geopolitik yang tinggi terutama poros Washington-Beijing, semakin dekatnya pemilihan umum Amerika Serikat (AS), kerusuhan yang merebak di berbagai negara akibat kesenjangan sosial dan ekonomi membuat prospek ekonomi jadi suram.

Kondisi tersebut membuat emas sebagai aset safe haven diborong oleh investor. Reuters melaporkan untuk Exchange Traded Fund (ETF) dengan underlying emas pada paruh pertama 2020 telah menambah posisi (holdings) emasnya sebanyak 734 ton.

Di sisi lain banjir stimulus fiskal dan moneter yang ada juga mendukung harga emas untuk menguat.

Rendahnya suku bunga acuan, banyaknya uang yang disuntikkan ke perekonomian melalui program pembelian aset keuangan (QE), pinjaman lunak oleh bank sentral, hingga bantuan sosial dan stimulus fiskal lain oleh pemerintah telah menimbulkan adanya ekspektasi inflasi yang tinggi di masa depan.

Dolar AS yang terdepresiasi hingga imbal hasil surat utang pemerintah AS yang sudah sangat rendah, bahkan dengan real rates yang jauh lebih rendah membuat opportunity cost untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi murah dan bullion semakin menjadi primadona.

“Harga emas terus terdorong oleh permintaan yang meningkat meski ada data makro ekonomi yang positif dan sentimen yang cenderung risk on…Pelemahan dolar telah mendukung emas, tetapi penyokong sebenarnya harga emas adalah imbal hasil asli” kata Suki Cooper analis dari Standard Chartered Bank.

Kendati harga emas sudah naik 19% tahu ini, tetapi emas masih di bawah rekor tertingginya di US$ 1.920 pada 2011 lalu. Bagaimanapun juga analis masih memandang prospek emas jangka menengah dan panjang masih baik.

Goldman Sachs memperkirakan dalam kurun waktu 12 bulan mendatang terhitung dari Maret, harga emas akan menyentuh level US$ 1.800 dan sekarang sudah kejadian. Sementara Bank of America (BoA) memperkirakan dalam 12 bulan mendatang sejak April harga emas akan menyentuh level US$ 3.000.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan