Equity World Medan – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa negara produsen minyak non-OPEC diprediksi bakal memperpanjang pemangkasan produksi minyak.

Langkah ini dilakukan guna mendorong penguatan harga. Akan tetapi, riset yang dilakukan bank investasi Goldman Sachs memprediksi surplus pasokan minyak akan tetap terjadi pada tahun 2018 mendatang.

“Perpanjangan (pemangkasan produksi) selama sembilan bulan akan menormalisasi pasokan pada awal 2018, namun kami melihat ada risiko kembali terjadinya surplus pada tahun depan jika produksi OPEC dan Rusia meningkat karena kapasitas melebar dan ada pertumbuhan minyak serpih,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporannya seperti dikutip dari CNBC, Rabu (24/5/2017).

Harga minyak cenderung menguat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, harga minyak sempat melemah di Asia pada Selasa (23/5/2017) pasca-pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana penjualan sebagian cadangan minyak strategis AS dalam rancangan APBN-nya.

Untuk menghindari siklus banjir pasokan lagi, Goldman Sachs menyarankan adanya upaya pembalikan harga secara berkesinambungan. Adapun untuk mengendalikan harga, Goldman Sachs menyatakan OPEC dan Rusia harus memperpanjang atau meningkatkan besaran pemangkasan produksi hingga pasokan kembali ke titik normalnya.

Dengan demikian, ketika pangsa pasar kembali meningkat, pasokan diharapkan bisa stabil. OPEC dan negara-negara produsen minyak utama dunia non-OPEC akan menggelar pertemuan pada 25 Mei 2017 di Vienna, Austria.

Ada kemungkinan besar mereka akan memperpanjang pemangkasan produksi Goldman Sachs memproyeksikan acuan harga minyak Brent akan berada pada level 57 dollar AS per barrel pada paruh kedua tahun 2017.

Sumber: Kompas.com

PT. Equityworld Futures

EWF Medan