Harga Minyak Turun, Shell dan Total Tunda Proyek di Afrika Barat

Equityworld Futures Medan : Perusahaan minyak global Royal Dutch Shell (asal Belanda) dan Total (asal Perancis) memutuskan menunda dua proyek minyak lepas pantai bernilai puluhan triliun rupiah di barat Afrika sebagai bagian dari upaya penyeimbangan biaya produksi.

Langkah ini juga diambil guna mendorong aliran dana perusahaan menyusul ambruknya harga minyak dunia.

Mengutip laman Financial Times, Selasa (28/4/2015), Shell menunda keputusan investasi di proyek Bonga South West di Nigeria hingga tahun depan. Investasinya diprediksi akan menghabiskan pengeluaran hingga US$ 12 miliar.

Total juga menunda keputusan investasi finalnya di Zinia 2, pusat pertambangan minyak Pazflor, Angola.

Dua proyek ini menyoroti bagaimana pemain besar industri perminyakan tengah berharap perairan Afrika barat dapat menjadi sumber besar produksi minyak mentah di masa depan. Tapi penundaan invstasi Shell dan Total akan memberikan waktu hingga para kontraktor menurunkan biayanya.

Belanja modal sebagian perusahaan minyak besar dunia memang sengaja dikurangi sekitar 10-15 persen tahun ini demi merespons jatuhnya harga minyak yang telah mencapai 40 persen sejak pertengahan tahun lalu.

Shell tengah mempertimbangkan penurunan harga minyak itu untuk bernegosiasi dengan pihak berwenang Nigeria tentang peran pemasok lokal.

Bonga South West yang mulai memproduksi minyak dan gas 10 tahun lalu merupakan pengembangan tambang lepas pantai pertama Nigeria dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

Hingga saat ini, tambang minyak tersebut telah menghasilkan lebih dari 500 juta barel minyak. Proyek Bonga termasuk konstruksi salah satu platform produksi lepas pantai terbesar di dunia.

Sementara keputusan Shell untuk menunda keputusan investasi final di Bonga menyusul langkahnya pada Januari untuk menghentikan rencana proyek US$ 6,5 miliar dengan Qatar Petroleum.

Total, yang memiliki 12,5 persen saham di Bonga South West kini tengah mempertimbangkan belanja modalnya di Zinia 2 yang dianggap relatif terlalu tinggi. Kini pihaknya tengah melakukan renegosiasi kontrak dengan para pemasuk.

“Setelah puluhan tahun inflasi biaya meningkat, penurunan harga minyak berarti industri ini harus lebih efisien,” pungkas CEO Total Patrick Pouyanne.(Sis/Nrm)