Hati-hati! Beli Saham juga Bisa Rugi, Ini Tips Supaya Cuan

Apa itu Trading Saham dan Bagaimana Cara Memulainya? - NabungSaham.idPT Equityworld Futures Medan- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat fluktuatif setiap saat. Tahun lalu bursa sempat jatuh ke level bottom 3.900 saat pandemi di Maret, dan di akhir tahun sempat menyentuh level tertinggi dan sekarang berada di level 6.000 lagi.
Bagi investor kelas kakap atau sudah berpengalaman, tentu pergerakan indeks selalu bisa diantisipasi dengan melihat fundamental ekonomi dan sentimen yang berlaku. Tapi investor baru masuk pasar modal tentu akan sulit untuk memprediksi pergerakan indeks ataupun saham jika tidak memiliki pengetahuan.

Itu sebabnya, banyak investor baru langsung syok lantaran harga sahamnya tiba-tiba ambles akibat salah perhitungan.

Dalam program Investime “Astaga, Investasi Saham Juga Bisa Rugi Lho!”, Selasa (2/1/2021), Analis Equitas PT NH Korindo Ajeng Kartika menjelaskan beberapa tips untuk mengurangi risiko kerugian beli saham.

Hal ini lantaran investasi saham adalah investasi dengan keuntungan tinggi, sekaligus risikonya juga tinggi, high risk, high return. Beberapa tips di antaranya:

Tergantung Risk Profile Investor

Menurut Ajeng, investasi saham tergolong untuk jangka panjang dan masih menarik ke depan. Saat ini milenial didorong untuk berinvestasi di saham karena dari segi umur yang masih panjang dan rata-rata memiliki risk profile moderate ke agresif.

“Jadi mereka bisa toleransi rugi, kebanyakan mereka memiliki risk profile yang menengah dan tinggi. Kalau misalnya risk profile moderat konservatif kita nggak saranin ke saham, tapi lebih ke obligasi dan pendapatan tetap,” katanya.

Tentukan Tujuan Investasi

Tujuan investasi harus dipilih untuk jangka panjang, menengah atau pendek. Karena ini akan mempengaruhi sikap dan keputusan yang diambil saat bertransaksi saham.

“Misal dia punya salah satu saham, dan turun 13% harganya. Kalau investor jangka panjang dan yakin dengan fundamental perusahaan tentu dia bisa ambil lagi. Tapi kalau tujuannya menengah dan pendek dia harus menentukan cut loss di berapa,” katanya.

Tentukan Harga Cut Loss

Cut loss adalah titik penentu investor untuk investor melepas sahamnya ketika rugi. Misalnya investor menentukan cut loss di 3% dari titik support (harga saham di batas penahan bawah), nanti ketika harga sahamnya sudah masuk pada titik itu investor harus tentukan apakah menjual sahamnya atau tahan.

Ajeng mengatakan tidak ada kata ideal untuk menentukan titik cut loss. Ini semua tergantung dari risk profile dari investor. Jika investor agresif dia bisa mentolerir hingga 15-20%. Sementara untuk investor yang konservatif di angka 3-5%.

“Kalau moderat ya di tengah-tengah,” imbuhnya.

Average Down

Average Down yaitu membeli kembali saham-saham yang dimiliki dengan harga yang lebih murah. Tapi dilihat juga tingkat likuiditas saham. Menurut Ajeng, untuk melakukan average down harus juga paham soal pergerakan teknikal saham. Dalam bahasanya, jika ada pantulan sedikit tentu bisa melakukan average down untuk mendapatkan keuntungan atau menutup kerugian.

Tapi jika saham itu hanya terus bertahan di level support (batas bawah) lebih baik di-cut loss. “Perlu timing kapan masuk dan kapal keluar,” katanya.

“.. Timing yang penting, gak bisa asal karena harga turun di beli lagi. kita harus tau soal teknikal tau soal support resistance minimal. Kalau dia di support jangan average down tunggu dia mantul dulu baru kita average down,” katanya.

Evaluasi portofolio

Investor juga harus memperhatikan portofolio investasinya. Harus dilihat jika saham yang dimiliki tidak memberikan keuntungan dalam jangka waktu tertentu, perlu diatur kembali kepemilikan sahamnya.

Menurut Ajeng lebih baik melakukan rebalancing portofolio selama 3-6 bulan sekali, tergantung dari emiten dan sentimen indeks.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan