IHSG Anjlok Hampir 4%, The Fed Gagal Tenangkan Pasar

IHSG Anjlok Hampir 4%, The Fed Gagal Tenangkan PasarPT Equityworld Medan – Setelah berdarah-darah sepekan kemarin, hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka masih melemah juga usai bank sentral AS umumkan pemangkasan suku bunga acuan lebih awal dari yang dijadwalkan tadi pagi.

Sepekan kemarin IHSG jatuh terkapar dengan mencatatkan koreksi secara mingguan sebesar 10,7% (week on week/wow). Jika periodenya ditarik hingga awal tahun, IHSG masih terkoreksi lebih dari 20%. Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (16/3/2020) IHSG dibuka stagnan, tetapi beberapa menit kemudian IHSG terkoreksi lebih dari 1%  dan terus terkoreksi hingga 3,8% ke level 4.720,8.

IHSG dibuka anjlok mengekor pergerakan bursa saham kawasan Asia pagi ini. Pada 08.51 WIB pagi ini, indeks Topix (Jepang) menguat 0,5% ,Kospi (Korea Selatan) naik tipis hampir flat 0,01%. Sementara tiga indeks bursa saham Asia yang masih melemah adalah Shang Hai Composite (China) , Hang Seng (Hong Kong) anjlok 2,65%, Straits Times (Singapura) nyungsep 2,86%, KLCI (Malaysia) melorot 2,86%>

Pagi tadi secara tiba-tiba, The Federal Reserves atau The Fed memberikan kejutan untuk pasar dengan memangkas suku bunga acuan (Federal Fund Rate/FFR) sebesar 100 basis poin (bps) ke rentang 0-0,25% dan menjadi level terendah sejak 2015.

Sebenarnya hal ini sudah diantisipasi oleh pasar. Namun lagi-lagi The Fed memberikan kejutan dengan memajukan waktu pengumuman pemangkasan suku bunga acuan. Komite Pengambil Kebijakan The Fed atau yang dikenal dengan FOMC dijadwalkan baru akan memulai rapat pada 17-18 Maret nanti.

Tak hanya itu, The Fed juga mulai melakukan program Quantitative Easing (QE) seperti yang dilakukan dulu saat krisis ekonomi 12 tahun silam. The Fed bersiap melakukan pembelian efek-efek keuangan seperti surat utang pemerintah senilai US$ 500 miliar dan efek beragun aset (EBA) sebesar US$ 200 miliar. The Fed mengatakan mulai akan melakukan pembelian pada Senin ini dimulai dari US$ 40 miliar.

Bagaimanapun juga jumlah kasus infeksi COVID-19 masih berpotensi terus bertambah baik secara global maupun kasus yang ada di dalam negeri. Sehingga hal ini memicu sentimen risk off di pasar.

Sebenarnya kasus infeksi COVID-19 di China sudah mulai menurun. Namun lonjakan kasus COVID-19 justru terjadi di luar China dengan Italia (>21.000 kasus) dan Iran (>13.000 kasus) memimpin dengan jumlah kasus terbanyak. Italia bahkan sudah memberlakukan lockdown satu negara sejak pekan lalu. Kini jumlah kasus di luar China hampir menyamai jumlah kasus di China.

Beralih ke dalam negeri, Indonesia juga sudah kebobolan COVID-19. Sejak kasus pertama diumumkan awal Maret, hingga kemarin jumlah infeksi COVID-19 di tanah air sudah mencapai 117 orang. Lima orang dinyatakan meninggal dan delapan orang sembuh.

COVID-19 memang tak pandang bulu dalam menyerang. Salah satu anggota kabinet yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dikabarkan positif terinfeksi COVID-19. Hal ini disampaikan langsung oleh pemerintah pada Sabtu (14/3/2020).

Merespons hal ini Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada bukannya malah panik. Jokowi juga menyampaikan bahwa ini saatnya untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah.

Dengan semakin banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia. Mulai banyak pemerintah daerah yang meliburkan kegiatan belajar mengajar seperti DKI Jakarta dan Surakarta. Beberapa perusahaan juga mengambil kebijakan dengan memberlakukan kerja remote (work from home) untuk mencegah terjadinya transmisi yang tentunya tak diinginkan.

Dalam dua minggu jumlah kasus sudah melebihi angka 100. Artinya per hari setidaknya ada 8 kasus baru dilaporkan. Jumlah kasus infeksi masih berpeluang untuk bertambah. Jika setiap hari jumlah kasus bertambah secara drastis, tentu ini bukan kabar baik untuk kesehatan kita, pasar dan perekonomian dalam negeri.

Hari ini investor juga akan ada rilis data neraca perdagangan RI dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk bulan Februari 2020 pada pukul 11.00 WIB. Berdasarkan poling yang dihimpun CNBC Indonesia, konsensus pasar meramal neraca dagang RI bulan lalu surplus tipis US$ 90 juta.

Namun jangan senang dulu karena surplus, mengingat ini lebih dikarenakan kegiatan impor dan ekspor yang tertekan. Konsensus pasar memperkirakan ekspor Februari 2020 turun sebesar 7,2% (yoy) dan impor terkontraksi sebesar 4,85% (yoy). Jika kontraksi yang terjadi lebih dalam, bukan tidak mungkin pasar akan mengganjarnya.

Pada 09.05 WIB, IHSG jatuh semakin dalam dengan mencatatkan pelemahan sebesar 3,79%. Well, sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Satu hal yang perlu diingat adalah musuh utama di babak ini adalah si virus. Selagi patogen tersebut belum bisa dijinakkan, maka tekanan masih akan membayangi pasar keuangan global maupun tanah air.

Intervensi di bidang kesehatan publik harus terus ditingkatkan di samping memberikan stimulus. Awareness harus ditingkatkan tapi bukan panik. Bagaimanapun juga kita harus bersiap dengan semua skenario. Bahkan skenario terburuk pun.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan