Equityworld_MedanEquityworld Futures Medan : Selama beberapa tahun terakhir, emas telah dipandang secara simultan sebagai lindung nilai ketika krisis terjadi, sebuah nilai lindung mata uang, sebuah nilai lindung inflasi dan sebuah nilai lindung deflasi. Kemilau emas tampak di mata para pemegangnya. Akan tetapi dalam situasi tidak adanya krisis geopolitik dalam skala penuh, penurunan ekonomi atau peristiwa ‘black swan’ lainnya, tidak ada alasan yang tepat untuk menahan emas — setidaknya di AS.
Sejak 2011 silam, emas telah meroket dan telah mengalami penurunan hampir 40% dari level tertingginya sepanjang sejarah, penurunannya sesuai dengan target agresif bullish yang tinggi. Sementara perak juga demikian, mengalami penurunan seperti logam mulai lainnya yang digunakan pada aktifitas manufaktur di belahan dunia, mencerminkan penurunan tajam dari perkiraan pertumbuhan ekonomi sebelumnya baik di ekonomi negara maju maupun berkembang.
Lalu apa yang terjadi dari penjelasan diatas?
1 Inflasi tidak pernah muncul dalam laju yang akan memicu emas atau perak mengalai kenaikan tinggi. Memang, pada basis inflasi yang telah disesuaikan emas tidak pernah “mengambil” level tertingginya pada 1980 lalu yang setara dengan $2,300 pada saat ini. Begitu juga perak, dimana saat inflasi tinggi berada pada level $110 per ounce.
2 Dollar tidak merosot, seperti oleh beberapa pihak perkirakan sebelumnya, meskipun pelongggaran telah dilakukan secara masif oleh Federal Reserve.
3 Bursa saham tidak mengalami pelemahan yang sangat tajam. Justru sebaliknya belakangan ini bursa saham berada pada level tertingginya sepanjang sejarah. (Bgs)
Sumber : CNBC