Kasus Corona Global Tembus Rekor, Rupiah Ikut Tekor

Ilustrasi UangPT Equityworld Futures Medan-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Apa boleh buat, sentimen yang beredar di pasar memang cenderung negatif.

Pada Senin (22/6/2020), US$ 1 dihargai Rp 14.050 kala pembukaan pasar spot. Sama persis posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu alias stagnan.

Namun tidak butuh waktu lama bagi rupiah untuk masuk zona merah. Pada pukul 09:04 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.080 di mana rupiah melemah 0,21%.

Sepanjang minggu kemarin, rupiah melemah lebih dari 1% di hadapan dolar AS secara point-to-point. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah, tetapi tidak ada yang separah rupiah

Hari ini, sentimen yang beredar di pasar sedang kurang enak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa penyebaran virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) kembali dalam tren meningkat.

“Hampir separuh dari peningkatan kasus berasal dari Benua Amerika. Dunia sedang dalam fase berbahaya, virus masih menyebar dengan cepat, masih mematikan, dan mudah menular,” tegas Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, sebagaimana diberitakan Reuters.

Kekhawatiran itu beralasan. Jumlah pasien corona memang kembali meningkat.

Menurut catatan WHO, jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per 21 Juni adalah 8.708.008 orang. Bertambah 183.020 (2,15%) orang dibandingkan hari sebelumnya.

Tambahan 183.020 dalam sehari kasus menjadi rekor tertinggi sejak WHO mendokumentasikan kasus corona pada 21 Januari. Sementara pertumbuhan 2,15% menjadi laju paling cepat sejak 18 Juni.

Dari tambahan pasien baru yang lebih sebanyak 183.020 orang itu, 116.041 orang di antaranya ada di Benua Amerika. Artinya, Benua Merah menyumbang 63,4% dari tambahan kasus corona di seluruh dunia.

Padahal dunia masih merasakan euforia setelah pemerintahan di berbagai negara melonggarkan pembatasan sosial (social distancing). Masyarakat yang selama berbulan-bulan #dirumahaja kini mulai bisa kembali beraktivitas meski harus mematuhi protokol kesehatan.

Namun kehidupan normal yang baru (new normal) ternyata membawa konsekuensi peningkatan penularan virus corona. Maklum, virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini akan semakin mudah menular ketika terjadi peningkatan interaksi dan kontak antar-manusia.

Oleh karena itu, muncul kekhawatiran bahwa jikalau kasus corona terus bertambah dalam jumlah yang signifikan, maka social distancing akan kembali diketatkan. Masyarakat kudu kembali ke rumah. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Aktivitas publik menjadi sangat terbatas, bahkan boleh dibilang hampir mati suri.

Ketika aktivitas sangat terbatas, maka sama saja menghentikan laju roda perekonomian. Harapan new normal akan membawa pemulihan ekonomi mulai paruh kedua 2020 menjadi buram.

Ketidakpastian masih sangat tinggi, karena ada risiko social distancing kembali digalakkan. Semakin lama orang-orang berdiam di rumah, maka resesi hampir pasti berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Hampir mustahil ekonomi dunia melesat pada 2021 kalau social distancing diketatkan lagi.

Persepsi semacam ini yang kemungkinan pelaku pasar bakal bersikap wait and see. Lebih baik menunggu terlebih dulu sampai ada kejelasan lebih lanjut, jangan melakukan apa-apa sampai ada kepastian.

Akibatnya, arus modal enggan mampir ke pasar keuangan negara-negara berkembang di Asia. Rupiah pun berisiko untuk kembali ke jalur merah.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan

Tinggalkan Balasan