Kenaikan Produksi China jadi Ancaman bagi Harga Batu Bara

Kenaikan Produksi China jadi Ancaman bagi Harga Batu BaraPT Equityworld Futures Medan-Harga batu bara termal Australia Newcastle untuk kontrak yang ramai diperdagangkan ditutup flat kemarin. Pelaku pasar masih terus mencermati perkembangan pandemi Covid-19. Namun di sisi lain kenaikan produksi batu bara China juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Kamis (14/5/2020), harga batu bara kontrak berjangka Newcastle ditutup tak bergerak di US$ 55,1/ton. Sejatinya sejak 4 Mei, harga batu bara cenderung mengalami tren naik seiring dengan pembukaan kembali (reopening) ekonomi di berbagai daerah termasuk Australia.

Penurunan jumlah kasus baru yang terjadi membuat banyak negara mulai melonggarkan pembatasan dan aktivitas ekonomi bergeliat lagi. Hal ini menjadi sentimen positif untuk komoditas batu bara.

Saat ekonomi berangsur pulih, maka permintaan terhadap batu bara berpotensi membaik. Sehingga hal ini mengerek harga si pasir hitam. Namun pembukaan yang prematur bisa menimbulkan ongkos yang sangat mahal karena bisa mendatangkan gelombang kedua wabah.

Setelah ekonomi berangsur-angsur dibuka beberapa negara seperti AS, China, Jepang dan Korea Selatan melaporkan terjadinya lonjakan kasus baru. Di Korea Selatan bahkan pertambahan jumlah kasus baru yang berhasil ditekan sampai single digit pada awal Mei, kini kembali ke angka puluhan setelah beberapa klub dan bar dibuka dan menjadi klaster baru infeksi virus.

Pasar juga masih diliputi dengan kekhawatiran kembali memanasnya hubungan AS-China. Trump yang kecewa karena China dinilai gagal untuk menangani pandemi membuatnya tak tertarik lagi membahas negosiasi dagang tahap lanjut.

Saking geramnya Presiden AS ke-45 itu bahkan beredar kabar AS tengah mempersiapkan sebuah Undang Undang yang bertujuan untuk menjegal China. China harus bertanggungjawab atas semua kekacauan yang terjadi hari ini. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, pemerintah sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act).

Dalam UU tersebut, China disebut harus bertanggung jawab penuh dan siap menjalani penyelidikan yang dipimpin oleh AS, sekutunya, dan WHO. China juga bisa didesak untuk menutup pasar tradisional yang menyebabkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia menjadi sangat tinggi.

UU itu juga mengatur sanksi bagi China. Misalnya pembekuan aset warga negara dan perusahaan China di AS, larangan masuk dan pencabutan visa, larangan individu dan perusahaan China untuk mendapatkan kredit, sampai melarang perusahaan China untuk mencatatkan saham di bursa AS.

Jika balas dendam ekonomi dilancarkan AS, maka prospek ke depan akan semakin suram. Waktu pemulihan juga berjalan dengan lambat. Permintaan batu bara juga menghadapi sebuah ketidakpastian.

Di sisi lain, produksi batu bara China yang mengalami kenaikan juga menjadi perhatian pelaku pasar. Biro Statistik Nasional China mencatat produksi batu bara China pada April lalu mencapai 322,12 juta ton atau naik 6% dibanding April tahun lalu.

Total output batu bara Negeri Tirai Bambu dalam periode empat bulan pertama tahun ini mencapai 1,15 miliar ton atau naik 1,3% dari periode yang sama tahun lalu. Anjloknya harga batu bara China disertai dengan naiknya output berpotensi membuat China beralih ke pasokan domestik daripada mengimpor batu bara. Hal ini menjadi sentimen negatif yang bisa menekan harga batu bara.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan