Equity World Medan – Harga minyak turun lebih dari satu persen pada Kamis setelah dua ladang minyak Libya memompa lebih banyak minyak mentah di tengah pasar yang kelebihan pasokan.

Bensin Amerika Serikat (AS) berjangka pun turun ke level terendah delapan tahun setelah persediaan membengkak dalam tiga bulan terakhir sementara permintaan tetap lemah.

Dikutip dari CNBC Jumat (28/4/2017) patokan minyak mentah Brent turun 19 sen menjadi 51,63 dollar AS per barel, hampir sembilan persen di bawah level tertinggi bulan ini.

Sedangkan patokan minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) turun 1,3 persen ke 48,98 dollar AS per barel, terendah dalam empat minggu terakhir.

Pejabat Libya mengatakan, ladang minyak Sharara memompa 300.000 barel per hari (bph) minyak mentah dan ladang minyak El Feel memompa 90.000 bph setelah kembali beroperasi paska-penutupan pipa.

Hal tersebut mendorong patokan Brent ke level 51,29 dollar AS per barel dalam rata-rata perdagangan 200-hari.

“Tetapi menurut saya pertanda harga bullish,” kata Anthony Headrick, analis dari CHS Hedging. Di sisi lain, harga bensin AS jatuh 3 persen ke 1,5458 dollar AS per galon, terendah sejak 2009.

Pekan lalu, persediaan bensin di kilang mengalami lonjakan, namun permintaan masih turun hampir dua persen tahun ini.

“Bensin didorong persediaan yang lebih rendah. Permintaan rendah dibandingkan tahun lalu dan persediaan meningkat,” ucap Headrick.

OPEC dan Rusia tengah dalam pembicaraan memperpanjang periode penurunan produksi, pada paruh kedua tahun ini.

Sekjen OPEC Mohammad Barkindo mengatakan, kelebihan pasokan global sudah turun. Namun, di sisi lain persediaan tetap tumbuh sehingga diperlukan perpanjangan periode pemotongan.

Sumber: Kompas.com

PT. Equityworld Futures

EWF Medan