Equity World Medan – Abrasi menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat maupun nelayan yang tinggal di pesisir Tanjung Mas Semarang, Jawa Tengah. Ancaman kehilangan tempat kelahiran maupun tempat tinggal akibat ditelan air laut menjadi hal yang tidak diinginkan.

Selain itu masyarakat setempat juga tak ingin kegiatan usaha maupun roda perekonomian warga hilang akibat ancaman abrasi.

Melalui Kelompok Tani Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun (Camar) sekumpulan nelayan di Desa Tambakrejo, Semarang, tengah berupaya agar wilayah desanya tidak hilang ditelan air laut.

Deretan rumah nelayan maupun masyarakat di wilayah tersebut terlihat lebih rendah dibandingkan jalan desa, dan tidak jarang terlihat sejajar dengan muka air laut.

Air laut menjadi pemandangan keseharian mereka, semilir angin laut pun tak henti menerpa deretan-deretan rumah nelayan.

Di bawah binaan Program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina (Persero) Kelompok Tani Camar mulai menanam pohon mangrove sebagai upaya menghalau abrasi di pesisir Desa Tambakrejo pada tahun 2011 silam.

Jumairi, Ketua Kelompok Tani Camar yang juga memiliki mata pencaharian sebagai petani di wilayah tersebut menjadi penglima dalam memimpin rekan sejawatnya untuk menghalau abrasi disamping pekerjaan utamanya sebagai pencari hasil laut.

“Di tahun 2000 abrasi menghantam pemukiman kami,” ujar Jumairi menceritakan di Basecamp Kelompok Camar, Desa Tambakrejo, Semarang, Rabu (6/9/2017).

Jumairi mengatakan, penanaman mangrove mulai digencarkan kelompoknya pada tahun 2011 dan masih berjalan hingga kini.

Data Bappeda Kota Semarang, abrasi air laut dari tahun 2005 hingga 2009 sudah menggerus lahan tambak sejauh 652,7 meter.

Menurut Jumairi, selain bisa menghalau abrasi pesisir, penanaman mangrove juga mulai menumbuhkan sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir dan juga menurunkan suhu udara disekitar lokasi desa Tambakrejo.

“Mangrove juga memperbaiki ekonomi masyarakat dan ini akan dijadikan lokasi ekowisata dan akan dibuat jogging track, kemudian kampung bahari,” ungkapnya.

Salah satunya adalah panganan olahan dari daun pohon mangrove dan juga tepung dari pohon magrove hingga sirup yang tengah dikembangkan masyarakat.

“Hasilnya dengan adanya mangrove suhu ekstrim bisa menurun, dan juga bisa menjadi sumber ekonomi baru karena bisa dibuat menjadi makanan, tepung, dan sirup, tetapi masih terbatas karena peralatan,” ungkapnya.

Kendati demikian, Jumairi tak menampik saat ini jumlah personil anggota Camar mengalami penurunan dari 20 orang lebih, kini tersisa hanya 10 orang.

“Mungkin karena faktor ekonomi, jadi lebih memilih melaut, kalau kami merasa bertanggung jawab dengan masalah abrasi,” katanya.

Berdasarkan data Kelompok Camar, hingga kini 116.000 pohon mangrove sudah tertanam di wilayah pesisir Tambakrejo yang ditanam oleh Jumairi melalui kelompok Camar dibawah binaan Pertamina.

“116.000 tertanam dan 90 persen pohonya hidup, sudah memiliki tinggi sekitar 3 sampai 3,5 meter, binaan dari Pertamina dari tahun 2011 sampai 2016,” katanya.

Kini melalui kelompok Camar, nelayan sekitar sudah mampu melakukan budidaya pohon mangrove dan menghasilkan bibit pohon magrove untuk dijual maupun keperluan penelitian akademisi dan hasilnya digunakan untuk biaya operasional kelompok Camar maupun budidaya pohon mangrove.

“Kami menjual bibit mangrove, Rp 1.000 per batang untuk akademisi, untuk perusahaan pakai sistem paket Rp 3.000 per batang termasuk penanaman, perawatan, monitoring sampai hidup,” kata Jumairi.

Officer CSR Pertamina MOR IV Lilik Hardiyanto mengatakan, sejak tahun 2011 hingga 2016 PT Pertamina (Persero) telah melakukan pembinaan terhadap kelompok Camar untuk penangulangan abrasi pesisir Tambakrejo.

“CSR untuk mangrove per tahunnya sekitar Rp 100 juta per tahun, dan untuk tahun 2017 kami anggarkan Rp 4,5 miliar untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta pada 11 lokasi untuk mangrove, pendidikan, penanaman pohon, infrastruktur,” paparnya.

Hingga pada tahun ini, PT Pertamina menargetkan akan menambah jumlah penanaman pohon mangrove sebanyak 6.000 batang pohon.

Hal itu dilakukan sebagai upaya membantu masyarakat Tambakrejo menghalau persoalan abrasi pesisir maupun menjadikan desa Tambakrejo sebagai desa wisata edukasi tanaman mangrove.

Sumber: Kompas.com

PT. Equityworld Futures
EWF Medan