Equityworld_MedanMinyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berayun antara keuntungan dan kerugian di dekat posisi terendahnya dalam enam bulan terakhir sebelum rilis data perdagangan yang akan memberikan sinyal kekuatan ekonomi di China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Brent mantap.

Minyak WTI berjangka bergerak mendatar di New York. WTI turun untuk kedua kalinya kemarin menuju level terendahnya sejak Februari lalu, bahkan pasca rilis laporan dari Badan Energy Information Administration menunjukkan minyak mentah AS dan stok bensin menyusut pekan lalu. Di China, pertumbuhan ekspor pada bulan Juli mungkin meningkat 7,3 persen, sementara impor diperkirakan akan turun dari bulan sebelumnya, sebuah survei Bloomberg News menunjukkan sebelum data dari pihak Pabean besok.

WTI untuk pengiriman September berada di level $97,10 per barel, naik 18 sen di perdagangan elektronik New York Mercantile Exchange pada pukul 10:39 waktu Singapura. Kontrak turun sebesar 0,5 persen menjadi $96,92 kemarin, penutupan terendah sejak 3 Februari lalu. Volume semua berjangka yang diperdagangkan adalah sekitar sebesar 17 persen di bawah level RSI 100 hari. Harga WTI anjlok sebesar 1,3 persen tahun ini.

Minyak Brent untuk pengiriman September naik sebanyak 23 sen ke level $104,82 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange. Minyak mentah patokan Eropa lebih tinggi sebesar $ 7,71 dibandingkan WTI. Minyak Brent ditutup pada level $7,67 kemarin pasca meningkat selama tiga hari terakhir. (izr)

Sumber: Bloomberg