Nahas, Emas Gagal Take Off Saat Bitcoin & Saham Tesla Ambrol

Emas Meroket karena Harga Bitcoin Merosot, Siapa yang akan Menang? -  CoinDailyPT Equityworld Futures Medan-  Harga emas cenderung stagnan pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/1) setelah melorot tajam belakangan ini. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan greenback jadi pemantiknya meski volatilitas Bitcoin meningkat tajam.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS acuan bertenor 10 tahun kini sudah naik ke 1%. Pasca tertekan hebat ke level terendah dalam dua setengah tahun dolar AS mengalami technical rebound. Indeks dolar bangkit ke level 90.

Kenaikan imbal hasil dan dolar AS membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tak berimbal hasil seperti emas meningkat. Alhasil harganya tertekan. Sepanjang awal tahun ini harga logam kuning itu telah merosot 2,5%.

Hari ini harga emas di arena pasar spot cenderung tak bergerak. Pada 07.40 WIB, harga emas dibanderol di US$ 1.845,3/troy ons atau menguat sangat tipis 0,02%.

Wall Street ditutup di zona merah pagi ini. Indeks S&P 500 drop 0,66%. Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 0,29%. Sementara itu Nasdaq Composite yang berisikan saham-saham teknologi AS memimpin pelemahan dengan penurunan sebesar 1,25%.

Valuasi yang sudah tergolong tinggi memang berpotensi menyebabkan pasar saham mengalami koreksi sehat.

Sebagai informasi, menggunakan metrik valuasi yang dikembangkan oleh peraih nobel ekonomi Robert J Shiller pada 2013 yang dikenal dengan Cyclically Adjusted Price to Earning (CAPE) ratio, rasio harga terhadap earning S&P 500 saat ini sudah mencapai 34,7x.

Saat ini S&P 500 ditransaksikan dengan valuasi tertingginya dalam kurun waktu hampir 20 tahun terakhir setelah dot.com bubble crash tahun 2000. Bahkan S&P 500 sudah di atas rata-rata CAPE ratio-nya yang berada di angka 16,78x.

Saham-saham teknologi AS yang sudah meroket menjadi tumbal pagi tadi. Saham produsen mobil listrik besutan Elon Musk yaitu Tesla drop 7,82%. Tesla saat ini ditransaksikan di 90 kali arus kasnya. Valuasi yang sangat mahal tentunya.

Di sisi lain Bitcoin yang menjadi aset spekulatif juga crash. Harga satu unit Bitcoin anjlok 15% lebih dalam satu hari. Baik Bitcoin maupun saham Tesla belakangan ini menjadi primadona di kalangan pelaku pasar dan menjadi saingan emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi tinggi.

Investor dan para trader memburu cuan yang lebih tebal untuk melindungi asetnya dari kemungkinan inflasi tinggi akibat kebijakan moneter akomodatif dan fiskal ekspansif yang ditempuh pemerintah AS. Bitcoin dan Saham Tesla menjadi pilihannya.

Namun saat keduanya jatuh, harga emas masih susah bangkit karena dihimpit oleh dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang naik. Nahas memang nasib emas saat ini harus terombang-ambing di tengah volatilitas pasar yang meningkat

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan