Equity world – Harga minyak mentah rebound di sesi Asia pada hari Kamis setelah perkiraan persediaan AS yang dilaporkan oleh sebuah kelompok industri mengangkat sentimen.

Minyak mentah untuk pengiriman Oktober di Bursa Perdagangan New York diperdagangkan pada $46,27 per barel, turun 0,28%. Di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November naik 0,27% ke $48,66 per barel.

Pada hari Selasa, American Petroleum Institute melaporkan hasil kenaikan besar 12,1 juta barel, jauh melebihi perkiraan dari kenaikan moderat. Stok bensin turun 2,3 juta barel menyusul sebelumnya sebesar 1,6 juta terlihat di minggu lalu, sedangkan minyak sulingan naik 900.000 barel.

Data resmi stok produk minyak langsung dan turunan dari Badan Administrasi Informasi Energi AS akan dirilis pada hari Kamis.

Semalam, harga minyak sedikit menguat selama sesi Amerika, dengan pelaku pasar mengalihkan fokusnya ke data mingguan stok minyak AS produk langsung dan turunan.

Pedagang minyak terus melihat prospek bahwa negara-negara penghasil minyak utama akan membekukan produksi dalam mendukung pasar ketika bertemu di akhir bulan ini.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak, OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan eksportir minyak mentah Timur Tengah besar lainnya, akan bertemu produsen non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia pada pembicaraan informal di Aljazair antara 26 dan 28 September.

Brent melonjak tajam pada hari Senin setelah Arab Saudi dan Rusia berjanji untuk bekerjasama dalam mendukung pasar. Tapi harga minyak telah jatuh kembali karena perjanjian itu berhenti memberikan tindakan segera untuk mengatasi melimpahnya pasokan.

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh bertemu Sekretaris Jenderal OPEC Mohammed Barkindo di Teheran pada hari Selasa dan mengatakan ia akan mendukung setiap tindakan dalam menstabilkan harga minyak mentah sekitar $50-60 per barel.

Meskipun dalam pernyataan mendukung tersebut, kemungkinan bahwa pertemuan mendatang akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi membanjinya pasokan global menjadi lebih minimal, menurut para ahli pasar.

Sebaliknya, kebanyakan analis percaya bahwa produsen minyak akan terus memantau pasar dan mungkin menunda pembicaraan pembekuan dalam pertemuan resmi OPEC di Wina pada 30 November.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik dalam menggabungkan konsensus.

Sumber: investing.com

EQUITY WORLD FUTURES