Equityworld_MedanEquityworld Futures : Dalam beberapa minggu terakhir pasar saham Indonesia serta mata uang Rupiah terus mengalami tekanan. Pasar keuangan dan saham, diperkirakan masih akan mengalami pelemahan sampai pemerintahan baru dilantik.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, menjelaskan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pasar saham masih goyah karena tensi politik masih panas. Menurutnya, pelantikan Jokowi-JK pada 20 Oktober 2014 nanti akan sangat berpengaruh besar.

“Perbaikan Rupiah temporer, sampai nanti 20 Oktober 2014. Sebagian investor menunggu adanya penyerahan jabatan dari masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke masa presiden terpilih Jokowi,” tutur dia kala dihubungi Okezone di Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Ryan menambahkan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kuartal III-IV tahun tidak menampakkan perkembangan yang cukup baik. Pasalnya, target penambahan 30 perusahaan masih belum terpenuhi.

“Diprediksi bahwa sampai akhir tahun, jika perkembangan kurang baik pihak investor akan berpaling ke negara lain seperti Singapura dan Hong Kong,” katanya.

Dia melanjutkan, jika nilai Rupiah dibiarkan berada pada kisaran Rp12.000-Rp12.300 per USD, maka akan ada apresiasi yang besar dari pasar. Menurut dia, nilai fundamental Rupiah saat ini ada pada kisaran Rp11.700-Rp11.900 per USD.

“Jika ada campur tangan Bank Indonesia (BI), diprediksi Rupiah akan bertahan pada Rp12.000 sampai akhir tahun,” tukas dia. (mrt)