Equityworld Futures Medan – Brexit menunjukkan beberapa tanda-tanda pelesuan pasar tenaga kerja Inggris, untuk saat ini.

Jumlah orang yang bekerja naik 174.000 dalam tiga bulan sampai Juli dan pengangguran turun 39.000, membuat tingkat pengangguran berada di level terendah 11-tahun sebesar 4,9 persen, Kantor Statistik Nasional di London, Rabu. Perkiraan untuk Juli saja menunjukkan pengangguran jatuh menjadi 4,7 persen.

Angka-angka tesebut menambah bukti bahwa ekonomi telah bernasib lebih baik dari yang diperkirakan seiring keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa Juni lalu. Pengangguran secara luas diperkirakan akan meningkat seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi, meskipun Bank of England memprediksi peningkatan tersebut hanya terjadi secara bertahap.

Data bulanan eksperimental, yang mengambil periode setelah keputusan Brexit, menunjukkan tingkat pengangguran berada di level terendah sejak September 2005. Survei menunjukkan kenaikan pada Agustus, dengan Konfederasi Rekrutmen dan Ketenagakerjaan mengatakan perusahaan tampaknya tetap melakukan perekrutan meskipun perekrutan masih dalam mode ˜on hold™. Lowongan naik sedikit antara Juni dan Agustus.

Sementara pekerjaan berada di rekor sebesar 31,8 juta, ada beberapa tanda-tanda kerapuhan. Klaim pengangguran “ Indeks yang lebih sempit pengangguran – naik 2.400 pada bulan Agustus. Sementara itu, pekerjaan turun 105.000 pada bulan Juli saja, yang merupakan penurunan terbesar sejak Maret 2015.

BOE mengambil tindakan untuk membatasi dampak negatif dari Brexit dengan melepaskan stimulus moneter baru bulan lalu. Para pejabat berharap pengangguran meningkat menjadi 5,6 persen pada pertengahan 2018, jauh di bawah puncak 8,5 persen yang terlihat setelah resesi terakhir.

Angka Rabu juga menunjukkan pengurangan pada tekanan gaji, dengan pertumbuhan upah tidak termasuk bonus melambat menjadi 2,1 persen dalam tiga bulan sampai Juli, yamg terendah tahun ini. Pertumbuhan total gaji turun ke 2,3 persen.

Tekanan pada pendapatan riil diharapkan untuk menjadi intensif seiring perusahaan yang sedang berhati-hati menekan biaya tenaga kerja dan kenaikan harga impor menyebabkan inflasi berakselerasi. Hal itu, bersama-sama dengan perlambatan pertumbuhan pekerjaan, cenderung melemahkan belanja konsumen. (sdm)

Sumber: Bloomberg