Equity World Medan – Tingkat kejahatan di bidang keuangan semakin beragam dan terus berkembang. Beberapa jenis kejahatan di bidang ini adalah panggilan telepon atau pesan singkat penipuan yang mengatasnamakan pihak perbankan.

Dalam modus tertentu, nasabah diminta untuk menyebutkan nomor PIN atau kata sandi layanan perbankan internet. Modus lainnya adalah meminta nasabah untuk mentransfer sejumlah uang.

Terkait modus kejahatan keuangan seperti ini, bagaimana tanggapan perbankan? Serta, apa yang seharusnya dilakukan nasabah agar tidak menjadi korban?

Direktur Digital Banking & Technology PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rico Usthavia Frans menyatakan, keamanan dalam bertransaksi dengan layanan perbankan harus dimulai dari kesadaran pengguna.

(Baca: Pencurian Data Nasabah, Potret Carut-marut Perbankan?

Dalam hal ini, nasabah sebaiknya tidak memberikan informasi dalam cara dan bentuk apapun terkait identitas kartu atau akses ke rekening.

“Jangan share (bagikan) informasi yang sensitif seperti PIN dan OTP kepada siapapun. Termasuk jika ada yang mengaku dari pihak bank,” kata Rico ketika dihubungi Kompas.com, Senin (7/8/2017).

Rico menuturkan, pihaknya pun sudah mengantisipasi agar tidak terjadi fraud atau kesalahan dalam bentuk apapun ketika nasabah bertransaksi.

Dalam hal ini, Bank Mandiri memasang sebuah sistem khusus. “Kami implementasi Anti Fraud System yang bisa memonitor dan mencegah adanya fraud,” ungkap Rico.

Sumber: Kompas.com

PT Equityworld Futures
EWF Medan