Equity world – Di tengah fluktuasi pasar saham yang makin tinggi, investor harus cermat memilih saham agar investasinya tak ikut tersungkur. Bukan hanya price to earning, mahal atau tidaknya saham juga bisa dilihat dari perbandingan nilai intrinsiknya.

Laporan keuangan bisa menjadi variabel utama untuk menentukan nilai intrinsik. Dari laporan keuangan, investor bisa cermati neraca keuangan, laporan rugi laba, dan aliran kas.

Outlook ke depan bisnis emiten juga bisa mengubah perhitungan nilai intrinsik. Misal, emiten mendapat proyek jangka panjang. Faktor lainnya adalah data kualitatif.

Misalnya, relasi yang dimiliki emiten atau kualitas tim yang mengisi struktur manajemen. Nah, sejumlah saham berkapitalisasi besar alias big cap dalam indeks LQ-45 telah mendekati nilai intrinsik. Tapi, saham-saham ini masih layak koleksi.

“Investor mau membayar lebih karena yakin perusahaan akan terus mencetak pertumbuhan,” kata Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali kepada KONTAN akhir pekan lalu, Jumat (18/11).

Contoh, saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) yang memiliki nilai intrinsik Rp 4.237 per saham. Sementara, harga penutupan akhir pekan lalu Rp 3.800 per saham. Artinya, level harga ini telah mencapai 89% dari nilai intrinsiknya.

Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) malah sudah mencapai 90% dari nilai intrinsiknya. Akhir pekan lalu, saham BBCA ditutup di harga Rp 14.725 per saham. Demikian pula dengan big cap lainnya, seperti saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Rata-rata harga saham emiten ini telah mencapai 80% nilai intrinsik. Contoh big cap yang masih layak koleksi salah satunya adalah INDF. Alasannya, INDF bergerak di sektor konsumer yang cenderung defensif.

Analis Bahana Securities Michael W. Setjoadi merekomendasikan buy INDF dengan target harga Rp 9.650 per saham.

Menurut Michael, INDF menarik antara lain karena merek anak usahanya yang sudah dikenal cukup luas, Bogasari. Persaingan industri tepung memang diprediksi bakal kian ketat. Apalagi setelah PT Interflour Indonesia berniat mencaplok 2% pangsa pasar lagi setelah pabrik barunya beroperasi.

Selama ini pangsa pasar Bogasari berada pada posisi 8%. Tapi sisi positifnya, Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) memprediksi jika industri tepung nasional masih akan tumbuh 5%-6% untuk tahun depan dan seterusnya.

“Sementara, Bogasari masih menjadi market leader,” kata Michael dalam riset 14 November.

Lantas, apakah mahalnya saham tersebut pada akhirnya menjadi biang keladi turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)? Frederik bilang, belum tentu. Sebab menurut dia, umumnya harga saham di pasar bisa lebih tinggi daripada nilai intrinsiknya.

“Apalagi bila saham tersebut memang likuid dan memiliki outlook yang baik,” ujarnya.

Hal ini juga terlihat dari penggerak IHSG selama ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang November, saham-saham seperti TLKM, BBCA, HMSP dan sejumlah saham big cap lainnya menjadi saham pemberat atau laggard stock di indeks.

Tapi bila dilihat sejak awal tahun, saham-saham ini justru masuk ke dalam daftar saham pendorong indeks.