Rupiah, Dolar AS dan Ingatan Krisis 98

Equity World Medan – Nilai dolar AS masih mengalami penguatan terhadap Rupiah. Dolar AS hampir menyentuh angka Rp 15.000 (berdasarkan perdagangan Reuters Selasa, 4/9).

Kalangan bankir dan ekonom menyebutkan tekanan yang pada Rupiah saat ini terjadi karena faktor eksternal. Yaitu akibat krisis yang melanda Turki dan Argentina. Sialnya, Indonesia masih masuk dalam kategori negara berkembang yang memiliki isu pelebaran defisit neraca transaksi berjalan, jadi efek krisis yang terjadi di kedua negara tersebut juga terasa ke Indonesia.

Selain itu, Bank sentral AS, The Federal Reserve juga memiliki rencana untuk menaikkan lagi tingkat bunga acuannya. Memang, The Fed sudah memberikan sinyal kenaikan ini jauh-jauh hari. Tapi pasar tetap saja harus tetap diwaspadai adanya aliran modal keluar dari Indonesia, karena tingkat bunga di AS yang lebih menarik.

Meskipun begitu, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih cukup baik, mulai dari angka inflasi yang rendah dan angka kemiskinan yang menurun hingga peringkat surat utang pemerintah yang baik dengan predikat Investment Grade beda dengan periode 98 yang predikatnya junk.

Sehingga, ketakutan ancaman krisis seperti periode 1998 rasanya harus dihilangkan. Banyak perbedaan antara krisis 98 dan kondisi saat ini.

Bank Indonesia (BI) berupaya untuk membuat benteng pertahanan dengan melakukan intervensi ganda di pasar valuta asing dan pasar obligasi. BI juga meminta kepada korporasi untuk melepas dolar AS nya dan memegang Rupiah. Pemerintah juga melakukan upaya dengan menahan impor agar permintaan dolar AS tak semakin besar.

Masyarakat yang ingin membantu mata uang garuda supaya kuat melawan lembaran uang kertas hijau asal negeri Paman Sam itu juga bisa ikut serta.

Berikut ulasannya : (kil/dna)

Sumber : detik.com

PT. Equityworld Medan
EWF Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2018
Loker EWF Medan