Rupiah Terburuk di Asia, Tapi Perkasa di Kurs Tengah BI

Equityworld Futures -Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menjadi yang terburuk di Asia pada awal perdagangan Jumat (7/2/2020), tetapi masih perkasa di kurs tengah Bank Indonesia (BI).

Pada pukul 10:15 WIB, rupiah melemah 0,29% ke Rp 13.655/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sementara di kurs tengah BI atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor rupiah berada di level Rp 13.647/US$, menguat 0,11% dibandingkan Kamis kemarin, dan mencatat penguatan tiga hari beruntun.

Mayoritas mata uang utama Asia memang sedang melemah melawan dolar AS, tetapi rupiah menjadi yang terburuk.

Berikut pergerakan mata uang utama Asia hingga pukul 10:15 WIB.

Mata Uang     Kurs Terakhir     Perubahan (%)
USD/CNY     6,982     0,18%
USD/HKD     7,7609     -0,05%
USD/IDR     13.655     0,29%
USD/INR     7,127     0,07%
USD/JPY     109,91     -0,07%
USD/KRW     1.187,60     0,20%
USD/MYR     4,1340     0,28%
USD/PHP     50,745     -0,03%
USD/SGD     1,3854     -0,01%
USD/THB     31,15     0,00%
USD/TWD     30,09     0,07%

Sebelum melemah pada hari ini, rupiah sudah mencatat penguatan tiga hari beruntun hingga Kamis kemarin dengan total penguatan 0,91%, berkat membaiknya sentimen pelaku pasar setelah China berusaha meredam dampak virus corona ke pasar finansial.

CNBC International melaporkan, Senin lalu bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menurunkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial yang terjadi akibat virus corona. Selain itu dalam 2 hari terakhir PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Berkat stimulus tersebut, bursa saham global menghijau sejak hari Selasa, dampaknya sejak hari itu rupiah juga kembali menguat. Dalam dua hari terakhir, tercatat rupiah menguat sebesar 0,51%.

Setelah stimulus dari PBoC, kini giliran Pemerintah Beijing membuat pelaku pasar gembira. Kamis kemarin CNBC International mewartakan China akan memangkas bea masuk importasi berbagai produk dari AS senilai US$ 75 miliar.

Belum jelas produk apa saja yang masuk dalam daftar tersebut, yang pasti bea masuk yang sebelumnya 10% akan dipangkas menjadi 5%, dan yang sebelumnya 5% menjadi 2,5%.

Dalam rilis Kementerian Keuangan China yang dikutip CNBC International, pemangkasan bea masuk tersebut dilakukan untuk perkembangan perdagangan yang lebih sehat antara China dengan AS. Pemangkasan tersebut mulai berlaku pada 14 Februari nanti.

Berita dari China tersebut tentunya menjadi kabar bagus setelah kedua negara resmi meneken kesepakatan dagang fase I pada 15 Januari lalu.

Diharapkan dengan pemangkasan bea impor tersebut perundingan dagang fase II akan berjalan lancar, dan bea masuk yang diterapkan kedua negara semakin dipangkas sehingga arus perdagangan global menjadi lancar.

Langkah dari China tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik dan masuk kembali ke aset-aset berisiko. Dampaknya bursa saham global menguat dan turut mengerek naik rupiah.

Sementara pada hari ini, bursa saham Asia memerah menjelang rilis data neraca perdagangan China, yang akan memberikan gambaran seberapa besar dampak virus corona. Rupiah yang sudah menguat nyaris 1% dalam tiga hari terakhir akhirnya ikut melemah bahkan menjadi yang terburuk di Asia.

Sementara itu dari dalam negeri, BI melaporkan cadangan devisa di bulan Januari mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2020 tercatat sebesar US$ 131,7 miliar, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2019 sebesar US$ 129,2 miliar,” jelas BI dalam keterangannya, Jumat (7/2/2020).

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Adapun peningkatan cadangan devisa pada Januari 2020 terutama didorong oleh utang melalui penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya.

Awal tahun 2020 ini, pemerintah menggalang dana US$2 miliar dan 1 miliar euro dari penerbitan perdana surat utang negara (SUN) di pasar global.
Rilis data cadangan devisa tersebut belum mampu mendongkrak kinerja rupiah, Mata Uang Garuda masih tertahan di zona merah.

Sumber : cnbcindosesia.com

PT. Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2019
Loker EWF Medan