Saham-saham Bank Mini Liar Gak Keruan, Hati-hati Spekulan!

Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)PT Equityworld Futures Medan-Analis pasar modal menilai investor mesti harus waspada terhadap potensi terjadinya penurunan harga saham bank-bank mini yang cukup signifikan bila rumor pasar berkaitan dengan akuisisi dan masuknya investor untuk bank digital ternyata belum teruji kebenarannya.
Merebaknya isu lembaga keuangan asing mencaplok bank-bank kecil di Tanah Air memang membuat pergerakan harga saham bank BUKU II (bank dengan modal inti antara Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun) kompak melesat.

Head of Invesment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai kenaikan beberapa harga saham bank-bank kecil akhir-akhir ini cenderung lebih disebabkan oleh rumor pasar.

Terbaru, misalnya, induk perusahaan Shopee, SEA Group dikabarkan tertarik membeli PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan PT Bank Capital Tbk (BACA) yang kabarnya diincar oleh OVO.

Faktanya menurut Otoritas Jasa Keuangan, Sea Limited (SEA Grup) justru menjadi pemegang saham PT Bank Kesejahteraan Ekonomi atau dikenal dengan Bank BKE. Upaya ini dilakukan Shopee untuk masuk ke bisnis bank digital di tanah air.

“SEA Grup sudah masuk di Bank BKE (Bank Kesejahteraan Ekonomi),” kata Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto, dalam konferensi pers, Kamis (18/2/2021).

Lebih lanjut, Kiswoyo tidak menampik, jika banyak lembaga keuangan asing melirik bank-bank kecil untuk diakuisisi, mengingat saat ini dari sisi margin bunga bersih/net interest margin (NIM), Indonesia masih yang terbesar di dunia di atas 3%.

“Saham bank kecil pergerakannya, rumornya lagi mencoba diakuisisi pihak asing. Perbankan di Indonesia saat ini NIM-nya tertinggi di dunia sehingga menarik bagi asing. Di luar negeri, NIM 3% saja susah,” katanya, kepada CNBC Indonesia, Rabu (17/2/2021).

Meski demikian, kenaikan yang terjadi belakangan ini, patut dicermati investor. Sebab, bila dilihat dari sisi valuasinya, bank-bank kecil tersebut kurang menarik dan dari sisi fundamental belum terlalu kuat.

“Price to book value [PBV] 1 kali, tidak menarik, begitu ada isu akuisisi, yang masuk trader yang berspekulasi, beli duluan. Ketika isu dibantah ya bisa langsung drop lagi,” katanya.

PBV adalah metode valuasi yang membandingkan nilai buku suatu emiten dengan harga pasarnya. Semakin rendah PBV biasanya perusahaan akan dinilai semakin murah. Secara Rule of Thumb, PBV akan dianggap murah apabila rasionya berada di bawah angka 1 kali.

Kisyono menilai, jika bank-bank kecil tadi masuk ke bank digital, saat ini belum ada perangkat yang bisa mengukur suatu valuasi bank digital di Indonesia.

Bila bank-bank konvensional sekelas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan valuasi 4-5 kali nilai buku sudah termasuk paling mahal, maka, untuk bank digital saat ini belum bisa disandingkan perhitungan valuasinya menggunakan skema PBV.

“Normal pakai PBV, bank digital belum ada yang memvaluasi di Indonesia,” kata dia.

Sebelumnya, saham-saham bank mini melesat cukup kencang seperti PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC).

Tidak hanya kedua saham tersebut yang terbang menyentuh level auto reject atas (ARA), empat bank lain juga sempat menyentuh level ARA yakni PT Bank Victoria Internasional Tbk (BVIC), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), BNBA, dan BACA pada pekan ini. Belakangan, BACA dan BNBA belum mengetahui secara pasti rumor pasar tersebut.

Data BEI mencatat, pada perdagangan sesi I, Jumat ini (19/2), saham BNBA naik 5,15% di level Rp 1.225/saham, sepekan melesat 104%. Berikutnya saham BACA minus 3,15% di level Rp 615/saham dan sepekan terbang 30%.

Lainnya saham INPC masuk auto reject bawah (ARB) minus 6,93% di posisi Rp 94/saham dan sepekan naik 19%, serta saham BGTG minus 4,95% di posisi Rp 96/saham dan sepekan naik 33%.

Kenaikan tersebut, salah satu pemicunya adalah respons positif investor mengenai kabar SEA Group terkait ekspansi bank digital, juga adanya kebijakan dari OJK terkait konsolidasi perbankan yang mewajibkan modal inti bank minimal Rp 2 triliun di tahun ini.

Kebijakan tersebut selaras dengan Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2020, bank diharuskan memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun 2020, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022.

Dengan demikian, ada spekulasi, bank-bank yang belum memenuhi ketentuan harus melakukan merger dan akuisisi atau penambahan modal dari pemilik bank tersebut

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan