Sikat Emas! Wall Street Sedang Berdarah-darah, Waktunya Beli

A Thai shopkeeper talks to customer who sold gold necklace to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit)PT Equityworld Futures Medan-Bank sentral Negeri Paman Sam The Fed dijadwalkan akan memberikan pengumuman kebijakan moneternya dini hari nanti. Menunggu proyeksi ekonomi Negeri Adidaya ke depan, logam mulia emas ditransaksikan stagnan pagi ini.

Rabu (10/6/2020) harga emas dunia di pasar spot menguat tipis cenderung stagnan. Pada 07.30 WIB harga emas naik 0,02% ke US$ 1.714,7/troy ons. Harga emas sudah reli dalam dua hari terakhir dan kembali ke level psikologisnya setelah jatuh di bawah US$ 1.700/troy ons pekan lalu.

Ada potensi harga emas menguat karena bursa saham sedang terkoreksi.

Kejatuhan harga emas pekan lalu dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang mantap minggu lalu. Secara tak terduga, penciptaan lapangan kerja di bulan Mei bertambah 2,5 juta. Angka ini jelas berbanding terbalik dengan estimasi ekonom yang memperkirakan lapangan kerja masih akan berkurang sebanyak 8 juta.

Investor kembali punya optimisme dan berburu aset-aset berisiko. Wall Street pun reli tak terbendung menyambut kabar gembira tersebut. Namun euforia tersebut agaknya terhenti dini hari tadi. Saham-saham di bursa New York mulai terkena profit taking.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah 1,07% dan S&P 500 terpangkas 0,78%. Sementara itu saham-saham teknologi malah menguat dengan Nasdaq mencatatkan apresiasi sebesar 0,29%.

Kini pasar kembali menyorot Jerome Powell dan komite pengambil kebijakan (FOMC) The Fed. Berdasarkan piranti FedWatch CME Group, 85% pelaku pasar melihat adanya peluang suku bunga di tahan di kisaran sekarang 0 – 0,25%.

Sebenarnya yang ditunggu dari pertemuan The Fed lebih ke proyeksi ekonomi ke depan, seperti proyeksi pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi hingga prospek lapangan kerja di AS.

Jika The Fed menilai bahwa outlook ke depan masih akan gloomy maka emas sebagai aset safe haven berpeluang menguat, meski data penciptaan lapangan kerja AS (non-farm payrolls) menunjukkan hal yang sebaliknya.

Bagaimanapun juga The Fed dan bank sentral global telah jor-joran memberikan stimulus untuk menyelamatkan perekonomian dari kejatuhan akibat lockdown besar-besaran yang memicu roda perekonomian berjalan lambat dan hampir terhenti.

Stimulus masif ini membuat investor melirik emas selaku aset lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan depresiasi nilai tukar. “Kami melihat jumlah likuiditas global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan hal ini menjadi landasan yang sangat mendukung untuk emas.” kata David Meger, director of metals trading di High Ridge Futures, melansir Reuters.

Kendati optimisme bahwa ekonomi akan pulih kian terasa, prospek emas untuk jangka panjang dinilai masih positif. Bank investasi terkemuka Credit Suisse menaikkan perkiraan harga emas dunia pada Jumat pekan lalu (5/6/2020).

Bank investasi yang didirikan sejak tahun 1856 ini menilai beberapa faktor pendorong harga emas di antaranya imbal hasil (yield) yang masih rendah dan negatif, depresiasi dolar AS dan tekanan inflasi.

Harga emas diprediksi akan naik lagi ke US$ 1.750/troy ons pada kuartal ketiga dari US$ 1.560/troy ons sebelumnya dan naik ke US$ 1.775/troy ons pada kuartal keempat dari US$ 1.600/troy ons sebelumnya. Sementara itu, Credit Suisse juga melihat harga emas rata-rata di level US$ 1.701/troy ons untuk setahun penuh, naik dari US$ 1.570/troy ons sebelumnya.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan