Tarik Nafas & Tenang, Kripto Ambruk: Litecoin-Ripple Parah

7 Alasan Kenapa Bitcoin Turun Drastis Di Tahun 2018 - Artikel Bitcoin

PT Equityworld Futures Medan- Pasar kripto kembali bergerak di zona merah pada perdagangan awal pekan Senin (24/5/2021) pagi, setelah pada Jumat (21/5/2021) pekan lalu sempat berhasil rebound.
Berdasarkan data dari Investing pukul 09:00 WIB, harga Bitcoin kembali melanjutkan pelemahan, yakni melemah 7,33% ke level US$ 35.139 atau setara dengan Rp 504.639.976, Ethereum merosot 9,27% ke US$ 2.124,17 atau Rp 30.535.382, Litecoin ambruk hingga 17,9% ke US$ 142,69 atau Rp 2.050.411.

Berikutnya Chainlink ambles 13,78% ke posisi US$ 20,55 atau setara dengan Rp 294.995, Ripple ambrol hingga 17,86% ke US$ 0,78 atau setara Rp 11.146, Cardano jatuh 13,67% ke US$ 1,30 atau Rp 18.748, dan Dogecoin merosot hingga 12,81% ke US$ 0,30 atau Rp 4.312.

Rebound pasar kripto yang terjadi pada Jumat (21/5/2021) pekan lalu tak berlangsung lama. Pada Minggu (23/5/2021) akhir pekan lalu, Bitcoin sempat mengalami penurunan sebesar 16%.

Menurut data dari Coin Meters, ‘Mother of Crypto’ itu turun ke US$ 31.772,43 (Rp 455 juta) setelah Jumat ke US$ 35.891 atau Rp 515 juta.

Dikutip CNBC International, penurunan ini terjadi dari aksi jual Bitcoin baru-baru ini karena dilanda serangkaian berita negatif. Bukan hanya dari influencer yang selama ini melakukan pump and pump pergerakan, tapi juga dan regulator utama di sejumlah negara.

CEO Tesla, Elon Musk mempermasalahkan sustainability alias keberlanjutan dari penambangan dan transaksi Bitcoin di dunia. Bahkan dia memutuskan untuk menghentikan pembelian Tesla menggunakan Bitcoin.

Musk dalam keterangannya menyebutkan adanya kekhawatiran bahwa Bitcoin menyebabkan penggunaan bahan bakar fosil yang meningkat pesat. Dia juga menyinggung data dari peneliti di Universitas Cambridge yang menunjukkan lonjakan penggunaan listrik Bitcoin pada tahun ini.

Di lain sisi, aksi jual secara masif masih terjadi di pasar kripto setelah tindakan keras pemerintahan China. Pada awal minggu kemarin, Negeri Tirai Bambu tersebut melarang lembaga keuangan seperti bank dan fintech pembayaran untuk menyediakan layanan transaksi uang kripto.

China juga mengingatkan investor agar tidak memperdagangkan uang kripto spekulatif. Pada akhir pekan kemarin, China menambah hantaman dengan mengaku akan mengeluarkan aturan baru untuk menindak penambang dan perdagangan mata uang kripto.

Hal ini akan dilakukan melalui regulasi yang akan ditetapkan oleh pemerintah. Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Dewan Negara mengatakan dibutuhkan regulasi yang lebih ketat untuk melindungi sistem keuangan.

“Perlu untuk menindak penambangan Bitcoin dan perilaku perdagangan, dan dengan tegas mencegah transmisi risiko individu ke bidang sosial,” tulis pernyataan bersama dikutip dari CNBC International.

Kekhawatiran China terhadap aktivitas penambangan dan transaksi kripto ini lantaran kegiatan tersebut dinilai menjadi pusat sejumlah masalah. Sama seperti Musk, penambangan Bitcoin dilakukan oleh komputer dengan penggunaan energi yang besar untuk membuka mata uang digital tersebut.

“Penting untuk menjaga kelancaran pasar saham, utang, dan valuta asing, menindak keras kegiatan sekuritas ilegal, dan menghukum berat kegiatan keuangan ilegal,” tambah pernyataan tersebut lagi.

Sementara itu, kabar buruk juga datang dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Pemerintah Joe Biden akan memberi rambu-rambu terhadap perdagangan mata uang kripto.

Biden punya rencana bahwa pengiriman mata uang kripto senilai lebih dari US$ 10.000 harus melapor ke Lembaga Penerimaan Negara (IRS). Untuk itu, pemerintahan Biden siap untuk menambah jumlah personel IRS untuk meningkatkan kepatuhan pajak warga.

“Seperti halnya transaksi tunai, pihak yang menerima lebih dari US$ 10.000 dalam bentuk aset kripto harus melapor,” sebut laporan Kementerian Keuangan AS

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan