Terjepit antara Lockdown Eropa & Arah Kebijakan The Fed AS

Jelang Rapat Rutin, the Fed Diperkirakan Tahan KebijakanPT Equityworld Futures Medan- Mengawali perdagangan perdana pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan koreksi 0,86% hingga keluar dari level psikologis 6.000. Potensi pembalikan arah masih kecil pada hari ini, di tengah masih sepinya sentimen positif dari dalam maupun luar negeri.
Menurut data perdagangan Senin (26/4/2021) IHSG berada di level 5.964,82. Nilai transaksi yang tercatat hanya Rp 9,8 triliun. Sebanyak 193 saham menguat, 304 saham turun dan 139 sisanya stagnan.

Investor asing melepas kepemilikan di saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap). Secara total, mereka mencetak penjualan bersih (net sell) Rp 195,57 miliar, sehingga total net sell asing di bursa domestik dalam sebulan terakhir tembus Rp 5 triliun.

Koreksi terjadi di tengah kekhawatiran kenaikan lagi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), menyusul indikasi bakal menguatnya inflasi di Negeri Sam. Jika imbal hasil obligasi acuan di AS naik, maka pembalikan modal berpeluang terjadi.

Merespons dinamika tersebut, harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pun ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (26/4/2021), di tengah potensi kembali naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond pada pukul 20:15 WIB, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis ke level 1,567% dari sebelumnya di level 1,56%. SBN acuan bertenor 1 tahun, 20 tahun, 25 tahun, dan 30 tahun cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan pelemahan harga dan kenaikan yield.

Kenaikan yield tertinggi terjadi di SBN berjatuh tempo 30 tahun dengan seri FR0089 yang naik sebesar 2,1 basis poin (bp) ke level 6,994%. Sementara itu, penurunan yield terbesar terjadi di SBN acuan bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang turun 4,9 basis poin ke posisi 6,435%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan bahwa harga obligasi sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Namun demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Kurs tengah BI atau kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada di Rp 14.489, alias menguat 0,4% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Di pasar spot, rupiah pun menguat. Kala penutupan pasar, rupiah berada di Rp 14.480, atau terapresiasi 0,28%. Seperti rupiah, sebagian mata uang utama Asia pun berjaya di hadapan dolar AS. Hanya peso Filipina dan baht Thailand yang melemah.

Penguatan terjadi setelah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) melesat 14% secara tahunan, manakala Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) turun 4,2%. Secara total, realisasi investasi kuartal I-2021 mencapai Rp 219,7 triliun atau naik 4.3%.

ndeks bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup variatif pada perdagangan Senin (26/4/2021), menyusul positifnya kinerja emiten kuartal I-2021 yang bermunculan pekan ini tetapi memicu kekhawatiran seputar inflasi.
Indeks S&P 500 naik 0,2% ke 4.187,62. Nasdaq menguat 0,9% ke 14.138,78. Namun, Dow Jones Industrial Average anjlok 61,92 poin (+0,2%) ke 33.981,57`karena terseret kinerja saham emiten konsumer seperti Procter & Gamble, Walmart, dan Coca Cola.

Pelemahan saham perusahaan konsumer terjadi di tengah kenaikan harga komoditas, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bahan baku mereka. Harga kontrak perdagangan jagung menyentuh level tertingginya dalam 7 tahun terakhir setelah bergerak volatil, sementara tembaga naik ke titik tertingginya nyaris dalam 1 dekade.

“Inflasi menjadi topik utama di musim rilis kinerja kali ini,” tutur Savita Subramanian, Kepala Perencana Saham dan Kuantitatif Bank of America, dalam laporan risetnya. “Bahan mentah, transportasi, tenaga kerja, dll disebut sebagai pendorong utama inflasi dan banyaknya rencana (atau sudah dilakukan) untuk menaikkan harga akan memicu kenaikan biaya.”

Investor mengantisipasi rapat bank sentral AS pekan ini, dimulainya program Presiden AS Joe Biden “American Families Plan” rilis data inflasi dan beberapa rilis kinerja emiten unggulan di AS yang jumlahnya mencapai 30% dari konstituen indeks S&P 500.

Dengan dimulainya pembukaan ekonomi global secara bertahap, saham perusahaan seperti Boeing, Ford dan Caterpillar diharapkan mampu menekan beban. Saham Apple, Microsoft, Amazon dan Alphabet (induk usaha Google) juga akan merilis kinerjanya.

Sebanyak 25% perusahaan AS di indeks S&P 500 melaporkan kinerja kuartal I-2021, dengan 84% di antaranya melaporkan kinerja positif dengan 77% di antaranya membukukan pendapatan di atas estimasi pasar.

Angka 84% tersebut sejauh ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2008, ketika FactSet pertama kali melakukan penghitungan kinerja keuangan emiten. Namun demikian, beberapa kalangan menilai bursa saham telah mencetak valuasi yang tinggi sejak awal tahun.

Rencana Biden menaikkan pajak penghasilan (Pph) atas capital gain menjadi 39,6% masih membayangi pergerakan pasar saham di Amerika Serikat (AS), termasuk juga pasar mata uang kripto. Kebijakan pajak tersebut bakal membuat beban potongan pajak yang dinikmati seperlima investor individu terkaya AS terpangkas rata-rata hingga 20% lebih.

Biden akan mengumumkan detil rencana tersebut dalam rapat dengan Kongres pada Rabu. Rencana itu telah menekan bursa saham AS dan mata uang kripto pekan lalu. Tekanan terutama terlihat di pasar mata uang digital, setelah nilai pasarnya merosot US$ 200 miliar dalam sepekan atau setara dengan Rp 2.900 triliun.

Data Departemen Perdagangan menyebutkan pesanan barang modal non-militer di luar pesawat menguat hanya 0,9% bulan lalu, atau di bawah estimasi Dow Jones yang memprediksi kenaikan 2,2%.

Minim sentimen. Itulah kondisi bursa saham sepanjang April ini yang cenderung sepi transaksi, manakala BP Jamsostek-pengelola dana buruh se-Indonesia-tengah mengurangi portofolionya di bursa saham. Pelaku pasar pun akan mengalihkan perhatian ke kebijakan moneter Negeri Adidaya, sembari mengawasi perkembangan Covid-19 di Eropa.
Jelang rapat Federal Reserve (The Fed) yang akan membuahkan hasil pada Kamis nanti, pelaku pasar di Wall Street cenderung menahan diri bertransaksi. Mereka mendasarkan posisi pada rilis kinerja emiten unggulan.

indeks dolar menguat dari posisi terendahnya dalam 8 pekan terhadap euro pada Senin kemarin. Investor global mengantisipasi nada pembalikan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut, sehingga mulai mengoleksi kembali aset berbasis mata uang Greenback. Penguatan dolar AS bahkan terjadi terhadap Swiss franc (yang dianggap sebagai aset lindung nilai/hedging).

Sepanjang bulan berjalan, dolar AS telah terkoreksi hingga nyaris 3% setelah imbal hasil (yield) US Treasury yang telah menguat tahun ini bergerak dengan range pendek. Jika pembalikan arah tersebut berjalan konsisten, maka rupiah pun berpeluang menghadapi tekanan sepanjang perdagangan menuju akhir pekan.

“Ada risiko bahwa The Fed pekan ini bakal mengirimkan sinyal berbeda mengenai nasib kebijakan tapering [aksi borong obligasi di pasar] akhir tahun ini,” tutur analis pasar senior Western Union Business Solutions Joe Manimbo, sebagaimana dikutip CNBC International.

Di pasar mata uang kripto, Bitcoin kembali naik ke level US$ 50.000 atau naik 10% dan dalam jalur untuk menghentikan koreksi dalam 5 hari sebelumnya akibat rencana Presiden AS Joe Biden menaikkan pajak penghasilan (Pph) atas keuntungan transaksi bagi investor kaya.

Dari dalam negeri, kasus baru Covid-19 kembali naik dengan 5.944 kasus harian yang dibarengi dengan kenaikan kasus aktif. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, Senin (26/4/2021) hingga pukul 12:00 WIB, kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 1.647 juta orang.

Kasus aktif atau jumlah pasien yang harus mendapat perawatan kembali naik, dengan tambahan 178 orang. Total, kasus aktif atau orang yang membutuhkan perawatan sebanyak 100.652 orang. Jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 51.878 orang dengan jumlah suspek 68.297 orang.

Kabar baiknya, jumlah pasien yang sembuh bertambah 5.589 orang sehingga totalnya, 1,501 juta orang. Meski jumlah pasien sembuh terus meningkat, masih ada angka kematian baru akibat virus ini sebanyak 177 orang.

Namun, kasus Covid-19 di negara Eropa saat ini cenderung memburuk, dengan gelombang ketiga penyebaran. Jerman, salah satu negara yang menghadapi situasi yang mengkhawatirkan tersebut, menerapkan aturan pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown) yang lebih ketat dan bakal berlaku hingga Juni nanti.

Aturan tersebut meliputi pembatasan jumlah kunjungan di toko, pusat keramaian, dan membatasi kontak antar individu. Pada pukul 22:00 hingga 05:00, warga Jerman bakal dilarang keluar rumah kecuali untuk bekerja, berobat, dan mengajak anjing keluar.

Kebijakan baru tersebut dikhwatirkan menekan prospek ekonomi Jerman, yang saat ini menjadi yang terkuat di kawasan Euro. Ketika aktivitas masyarakat disekat-sekat, ada efek buruk berupa tersendatnya aktivitas ekonomi sehingga menunda prospek pemulihan ekonomi di Eropa, yang pada gilirannya berdampak juga ke ekonomi global.

Kombinasi beberapa kondisi fundamental perekonomian dan moneter tersebut bakal membuat gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbatas pada hari ini, ibarat terjepit di antara dua sentimen yang diperkirakan memburuk bagi prospek rupiah dan juga IHSG ke depannya.

Peluang kenaikan indeks bursa menuju level psikologis 6.000 hanya terbuka jika pemodal memutuskan beli di tengah koreksi harga (buy on weakness) dalam skala masif.

Berikut beberapa agenda korporasi dan data ekonomi yang akan dirilis hari ini:
Penjualan motor (tentatif)
Pertumbuhan PDB Korea Selatan (06:00 WIB)
Laba industri China (08:30 WIB)
RUPST PT Jakarta Urban Propertindo Tbk (09:00 WIB)
Keputusan suku bunga acuan Bank of Japan (10:30 WIB)
Rilis indeks harga perumahan (20:00 WIB)

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan