Vaksin Corona Segera Beredar, Harga Rp 500.000-an (Bisa Nego)

INFOGRAFIS, Kandidat Vaksin yang akan Masuk RI

PT Equityworld Futures Medan- Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan kemarin. Tren positif sejak pekan lalu berhasil berlanjut, setidaknya pada hari pertama pekan yang baru.

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,66%. IHSG menjadi yang terbaik ketiga di Asia, hanya kalah dari Weighted Index (Taiwan) dan Kospi (Korea Selatan).

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,34% di perdagangan pasar spot. Rupiah ditutup di Rp 14.490, posisi terkuat sejak 14 Juli.

Kemudian imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia cenderung turun pada perdagangan kemarin. Penurunan yield mencerminkan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan.

Arus modal asing tengah mencari ‘rumah’ baru karena di Negeri Paman Sam cuan yang didapat semakin tipis. Ini tidak lepas dari perkembangan suku bunga yang terus dalam tren rendah.

Pekan ini, Komite Pengambil Kebijakan Bank Sentral AS (Federal Open Market Committee/FOMC) akan menggelar rapat bulanan untuk menentukan suku bunga acuan. Mengutip CME FedWatch, probabilitas Federal Funds Rate bertahan di 0-0,25% adalah 100%. Tidak ada ruang sama sekali untuk perubahan.

Ditambah lagi The Federal Reserve juga getol menggelontorkan uang ke pasar dengan membeli obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Tingginya permintaan membuat harga obligasi di Negeri Adidaya naik dan imbal hasilnya tertekan.

Pada pukul 00:21 WIB, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 0,5954%. Sedangkan laju inflasi tahunan pada Juni 2020 adalah 0,6%. Jadi suku bunga riil yang diterima investor (setelah dikurangi inflasi) adalah sekitar -0,05%. Membeli obligasi di AS sama saja nombok, bukannya cuan.

Bandingkan dengan Indonesia, di mana yield SBN 10 tahun ada di 6,87%. Dengan laju inflasi tahunan pada Juni 2020 yang sebesar 1,96%, maka suku bunga riil yang didapat investor adalah 4,91%. Nah, ini baru cuan…

Perkembangan tersebut membuat rupiah banyak dicari karena akan dipakai oleh pelaku pasar untuk memborong aset di pasar keuangan Indonesia, utamanya obligasi. Namun ternyata ada juga fulus yang mengalir ke pasar saham, terlihat dari beli bersih (net buy) investor asing sebesar Rp 45,37 miliar.

Beralih ke bursa saham New York, tiga indeks utama finis di zona hijau. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,43%, S&P 500 menguat 0,74%, dan Nasdaq Composite melesat 1,67%.

Investor di Wall Street menantikan kabar terbaru dari Washington. Akhir pekan ini, semestinya paket stimulus fiskal berupa pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar US$ 600 (sekira Rp 8,69 juta) per minggu bakal berakhir. Bantuan ini sedikit banyak menopang ekonomi rumah tangga di Negeri Adidaya yang terpukul akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang membuat lapangan pekerjaan menipis.

Kubu Partai Republik di House of Representatives (salah satu dari dua kamar parlemen di AS) mengajukan proposal paket stimulus baru bernilai US$ 1 triliun (Rp 14.490 triliun). Nilai BLT untuk sementara diturunkan dulu ke US$ 200 (Rp 2,89 juta) tetapi kemudian rencananya bakal naik menjadi US$ 1.200 (Rp 17,34 juta). Plus akan ada bantuan untuk usaha kecil, sekolah, dan perlindungan bagi dunia usaha.

“Kami akan bersiap. Kami akan memberikan bantuan lanjutan yang bisa mencakup 70% dari gaji para pegawai yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” kata Mark Meadow, Kepala Staf Gedung Putih, seperti dikutip dari Reuters.

Kubu Partai Demokrat, yang menduduki kursi mayoritas di House, punya tendensi untuk menambah paket stimulus menjadi US$ 3 triliun (Rp 43.472 triliun). Nancy Pelosi, Ketua House, ingin agar BLT bisa terjamin diberikan hingga akhir tahun.

Namun yang jelas, pelaku pasar menilai eksekutif dan legislatif punya pandangan yang sama yaitu bagaimana menyelamatkan rakyat. Bagaimana pun nanti keputusannya, yang terpenting adalah BLT akan berlanjut dan mungkin bisa sampai akhir tahun ini.

“Pasar melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Ini layaknya vaksin yang membuat kita sehat sampai akhir tahun,” ujar Thomas Hayes, Managing Member di Great Hill Capital LLC yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

BLT akan memainkan peran penting dalam menjaga konsumsi rumah tangga di AS. Konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama dalam perekonomian AS.

Pada 2018, nilai ouput ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) AS adalah US$ 20,58 triliun. Dari jumlah tersebut, 68,02% datang dari konsumsi rumah tangga.

Data ekonomi terbaru di AS juga membawa optimisme. Pada Juni 2020, pemesanan barang tahan lama (durable goods) naik 7,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Walau melambat dibandingkan pertumbuhan Mei yang mencapai 15,1%, tetapi lebih baik ketimbang konsensus pasar yang dihimpun dengan perkiraan 7%.

Pembelian barang tahan lama mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat membaik. Orang-orang sudah mau menyisihkan penghasilannya untuk membeli barang tahan lama, berarti semakin banyak yang selesai dengan urusan perut.

Untuk perdagangan hari ini, investor patut mencermati sejumlah sentimen. Pertama tentu perkembangan pandemi virus corona.

Mengutip data Center for Systems Science and Engineering (CSSE) yang dikembangkan Universitas Johns Hopkins, jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per pukul 01:07 WIB mencapai 16.330.977 orang. Sejak pelonggran pembatasan sosial (social distancing) kasus corona memang melonjak di hampir seluruh negara. Akibatnya, beberapa negara kembali melakukan pengetatan.

Inggris telah memberlakukan wajib karantina 14 hari bagi pelancong yang baru tiba dari Spanyol. Kebijakan serupa juga diterapkan di Noerwgia, hanya masa karantinanya lebih singkat yaitu 10 hari.

Vietnam, negara yang digadang-gadang sudah menang ‘perang’ melawan virus corona, kini harus berjuang lagi. Per 27 Juli 2020, jumlah pasien positif corona di Vietnam adalah 431 orang, bertambah 11 orang dibandingkan hari sebelumnya.

Meski tambahan pasien baru boleh dibilang minim, tetapi Vietnam sudah melakukan langkah antisipasi dengan menerapkan karantina wilayah (lockdown) di Kota Danang. Pemerintah setempat mengevakuasi 80.000 orang, yang sebagian besar adalah turis, keluar dari kota tersebut. Proses evakuasi diperkirakan makan waktu sampai empat hari dengan mengerahkan 100 penerbangan per hari dari Danang ke 11 kota lainnya di Negeri Paman Ho.

Di Hong Kong, pemerintah kembali melarang kumpul warga lebih dari dua orang. Restoran lagi-lagi dilarang untuk melayani pelanggan yang makan dan minum di tempat, sesuatu yang sebelumnya sempat diizinkan.

Per 27 Juli 2020, jumlah pasien positif corona di eks koloni Inggris itu adalah 2.779 orang, bertambah 145 orang dibandngkan hari sebelumnya. Tambahan 145 orang pasien baru dalam sehari adalah rekor tertinggi sehingga harus disikapi dengan sangat serius.

Awalnya sempat ada harapan pada April-Mei, kala itu penyebaran virus yang bermula dari kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut mulai melambat. Akhirnya berbagai negara memberanikan diri untuk membuka ‘keran’ aktivitas masyarakat agar ekonomi bisa bangkit.

Namun pelonggaran ini membuat intensitas kontak dan interaksi antar-manusia meningkat. Virus pun kian mudah menyebar, sehingga terjadi lonjakan kasus baru.

Lonjakan kasus direspons dengan melakukan penutupan kembali alias reclosing. Walau tidak dalam skala semasif sebelumnya, tetapi tetap saja ada pembatasan kegiatan masyarakat. Ada risiko roda ekonomi bakal macet lagi, sehingga prospek pemulihan menjadi samar-samar.

Sentimen kedua, masih seputar wabah virus corona, ada kabar bagus dari upaya pengembangan vaksin. Moderna, perusahaan farmasi asal AS, mengumumkan bahwa vaksin anti-corona buatan mereka kemungkinan sudah siap digunakan pada akhir tahun ini. Moderna akan segera memulai uji coba tahap III yang melibatkan 30.000 relawan untuk melihat apakah vaksin aman dan efektif untuk menangkal virus corona.

“Mendapatkan vaksin yang aman, efektif, dan bisa diedarkan pada akhir tahun adalah tujuan kami. Ini adalah tujuan semua orang,” kata Direktur US National Institutes of Health Francis Colliins, sebagaimana diwartakan Reuters.

Dalam uji coba sebelumnya, vaksin yang diberi nama mRNA-1273 mampu meningkatkan antibodi relawan ke level lebih tinggi ketimbang pasien yang sembuh dari serangan virus corona. Jika uji coba tahap III sukses, terbukti vaksin aman dan efektif, maka tinggal menunggu restu dari otoritas kesehatan.

Kalau nanti vaksi sudah tersedia, entah dari Moderna atau perusahaan lain, berapa harganya? Apakah bisa cukup terjangkau hingga mampu dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat?

GAVI, aliansi pengembang vaksin dunia, memperkirakan harga vaksin anti-corona paling mahal adalah US$ 40 (Rp 579.600) per dosis. Harga bisa berubah, tergantung kondisi ekonomi negara pemesan. Negara berpendapatan rendah tentu akan mendapatkan harga yang lebih murah. Bisa nego lah…

“Itu (US$ 40) adalah harga maksimal untuk negara berpendapatan tinggi, bukan harga patokan. Namun sejujurnya, belum ada yang tahu pasti berapa harganya karena akan tergantung sejauh mana vaksin bisa efektif,” kata Seth Berkeley, Chief Executive GAVI, seperti dikutip dari Reuters.

Indonesia kini berstatus negara berpenghasilan menengah sehingga kemungkinan bisa mendapatkan vaksin dengan harga tidak sampai US$ 40. Ditambah kalau ada insentif fiskal seperti subsidi harga sebagian atau ditanggung seluruhnya oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka vaksin anti-corona bisa dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Meski merusak seluruh sendi perekonomian, baik itu sisi penawaran maupun permintaan, jangan lupa bahwa pandemi virus corona adalah masalah kesehatan. Jadi kalau aspek kesehatan sudah tertangani dengan adanya vaksin, maka krisis ekonomi gara-gara pagebluk ini juga akan segera berakhir karena masyarakat bisa kembali hidup normal seperti sedia kala

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan