Waduh! Bursa Asia Berguguran, Hang Seng Merosot 1% Lebih

foto : Reuters

PT Equityworld Futures Medan-Mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/9/2021), di mana pergerakan bursa Asia cenderung mengikuti pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) yang melemah lima hari beruntun, terutama untuk indeks Dow Jones dan S&P 500.
Indeks Nikkei Jepang sempat dibuka menguat 0,1%. Namun selang 90 menit, Nikkei melemah 0,26%. Selanjutnya Hang Seng Hong Kong dibuka ambles 1,44%, Shanghai Composite China turun 0,15%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,39%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,32%.

Pada pekan ini, investor global, termasuk di Asia akan memantau data inflasi AS yang tercermin pada indeks harga konsumen (IHK) periode Agustus yang akan dirilis pada Selasa (14/9/2021) dan data penjualan ritel AS periode Agustus yang akan dirilis pada Kamis (16/9/2021).

Sementara dari China, sejumlah data ekonomi termasuk penjualan ritel dan produksi industri periode Agustus juga akan dirilis pada Kamis mendatang.

Baca: Siapkan Dana! Yuk Borong Saham Pilihan untuk Cari Cuan

Beralih ke AS, bursa saham AS ambruk pada perdagangan Jumat (10/9/2021) waktu setempat. Rilis data inflasi menjadi pemberat laju Wall Street.

Tiga indeks utama di bursa saham New York ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 0,78% ke level 34.607,72, S&P 500 merosot 0,77% ke 4.458,58, dan Nasdaq Composite minus 0,87% ke posisi 15.115,49.

Koreksi ini menambah kinerja buruk Wall Street sepanjang pekan lalu, karena secara mingguan tiga indeks tersebut mengalami penurunan yang signifikan. DJIA, S&P 500, dan Nasdaq anjlok masing-masing 1,7%, 2,15%, dan 1,61% sepanjang pekan ini.

Hal ini terjadi setelah dirilisnya data inflasi Negeri Paman Sam pada periode Agustus 2021. Kementerian Ketenagakerjaan AS melaporkan, inflasi di level produsen (producers price index/PPI) pada Agustus 2021 mencapai 8,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Angka ini lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 8,2% sekaligus menjadi laju tercepat sejak November 2010.

“Hambatan pasokan akibat pandemi membuat tekanan harga meningkat dan ini bisa terjadi hingga akhir tahun. Namun dengan permintaan yang melemah, dunia usaha harus menaikkan harga secara bertahap,” kata Nancy Vanden Houten, Lead US Economist di Oxford Economics yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Data inflasi ini kian menegaskan keyakinan pasar bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bisa saja melakukan pengetatan kebijakan atau tapering off pada tahun ini.

Tapering akan dimulai dengan mengurangi pembelian surat berharga (quantitative easing/QE) dan puncaknya adalah menaikkan suku bunga acuan.

Loretta Mester, Presiden The Fed Cleveland mengatakan tapering bisa saja mulai dilakukan tahun ini. Meski data penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll-NFP) agak mengecewakan.

Pada Agustus 2021, perekonomian AS menciptakan 235.000 lapangan kerja. Ini adalah yang terendah sejak Januari 2021.

Sejak masa pandemi virus corona (Covid-19), The Fed ‘mengguyur’ likuiditas di perekonomian melalui QE senilai US$ 120 miliar per bulan. Dana sebanyak itu membuat pasar berpesta-pora dan menciptakan mentalitas ‘beli, beli, beli’.

Jika tapering mulai diterapkan, maka gelontoran likuditas ini akan berkurang. Likuiditas akan mulai ketat, dan pelaku pasar bakal lebih mempertimbangkan risiko (risk-on) sebelum membeli aset.

Sumber : cnbcindonesia.com

PT Equityworld Medan
Equity world Medan

Lowongan Kerja Terbaru 2020
Loker EWF Medan

Tinggalkan Balasan