Equityworld_medanEquityworld Futures Medan : Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) diperdagangkan mendekati level  $61 per barel akibat Arab Saudi mempertanyakan pelrunya pemangkasan output, sehingga menambah tanda-tanda anggota terbesar OPEC tersebut akan mempertahankan pangsa pasar.
Kontrak berjangka minyak stagnan di New York setelah kemarin turun 4.5%, penurunan tajam sejak 28 November. Pasar akan mengkoreksi sendirinya, menurut Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al-Naimi. OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) menurunkan perkiraan mengenai seberapa besar minyak mentah akan dibutuhkan untuk produksi tahun depan sebesar 300,000 barel per hari menjadi 28.9 juta per hari, terendah sejak 2003 silam. Sementara kemarin Brent ditutup di bawah level  $65 per barel.
Minyak mentah diperdagangkan pada situasi pasar yang bearish akibat produsen terbesar pada 12 grup anggota mengajukan pemangkasan kepada para konsumen Asia ditengah naiknya tingkat output AS dalam lebih dari 3 dekade terakhir. Kuwait telah mengikuti Arab Saudi dan Iraq dalam pemangkasan harga ekspor setelah OPEC menyepakati saat pertemuan 27 November lalu yang tidak akan mengurangi pasokan.
WTI untuk pengiriman Januari berada pada level $61.18 per barel pada perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange yang naik 24 sen pukul 10:55 pagi waktu Sydney. Kemarin kontrak WTI turun $2.88 ke level $60.94, level penutupan terendah sejak Juli 2009 silam. Harga kontrak minyak tersebut telah mengalami penurunan sebesar 38% sepanjang tahun 2014 ini.
Kemarin Brent untuk penyelesaian Januari turun $2.60 atau 3.9% ke level $64.24 per barel di Bursa ICE Futures Europe, London, level terendah sejak Juli 2009 silam. Acuan minyak mentah Eropa tersebut mengakhiri sesi lebih tinggi sebesar $3.30 dibanding WTI. (bgs)
Sumber : Bloomberg